Sabtu, 27 Juli 2013

# TRAVEL

Hari-2; Sepuluh Hari Mencari Berkah di Kampung Ramadhan

Fajar yang menyingsing membawa para tim safari ramadhan di hari-2. Setelah tadarus bersama selepas shubuh, diikuti dengan tradisi lama yang tak pudar oleh masa, yaitu tidur kembali. Sudah kodradnya manusia, kalau tidak ada kerjaan selepas tadarus, ya apalgi mau dikerjain selain tidur. Tadarus usai pada pukul 06.30 WIB, setelah itu tidak ada manusia pun yang berdar di dalam masjid Nur Syakirin, semuanya melanjutkan tidur yang tertunda, termasuk aku. Meski pepatah mengatakan bahwa tidak boleh tidur selepas shubuh, karena akan ditakutkan rezeki akan dipatuk ayam, tapi kami tetap saja tidur, zzzZzZZz
Setelah beberapa jam terbawa dalam dunia mimpi, yang ketika bangun menyebabkan pusing kepala. Ya, tidur lepas shubuh itu akan menyebabkan pusing kepala, entah sebabnya. Kami pun bergegas mandi untuk meluncur ke desa yang akan menjadi tempat kami berdakwah selama Sembilan hari ke depan. Sudah ada Ramadhani yang menunggu sendiri di sana, kebetulan kemarin dia mengirimkan pesan pada kak Faiz untuk dikirimkan beberapa tim untuk menemaninya. Hehe, ternyata pria itu juga tidak betah sendirian di kampung orang.
Setelah semuanya beres, kami pun pergi ke desa Sukadame, diantar oleh tim pemantau dan juga tim lain yang akan pergi ke desanya masing-masing. Perjalanan yang kami tempuh lumayan jauh, benar-benar jauh dari jangkauan kota, meskipun memang sudah masuk listrik, namun keadaan jalan masih dirimbuni pohon-pohon di sisi kanan dan kiri jalan, di sebelah kiri jurang dan di sebelah kanan persawahan warga, bahkan kami juga menempuh jalan yang sisi kanan dan kirinya merupakan jurang, luar biasa sekali. Sama sekali tidak ada lampu jalan, terlihat beberepa titik yang tengah mengalami perbaikan jalan.
Dikhawatirkan bila penduduk melintasi jalan tersebut pada malam hari sangatlah berbahaya, selain tidak ada lampu jalan, juga minim rumah penduduk. Maka ada baiknya bila ingin berkunjung atau melintasi desa Sukadame Pancur Batu datanglah pada siang hari atau ketika matahari belum tenggelam. Bersama kak Jannah, kak Faiz, Asem dan juga Mentari, tibalah kami di rumah salah satu penduduk yang juga tengah menunggu kehadiran kami, yaitu wanita dengan dua anak yang biasa dipanggil Mak Nunun, karena anak tertuanya bernama Nurul tapi dipanggil Nunun.
Nurul Huda (Nunun) dan kucing-kucing kecil peliharaannya

Mak Nunun memiliki dua anak kecil yang sangat lucu dan lincah sekali, anak pertama bernama Nurul Huda, gadis kecil berkulit hitam manis keturunan ayahnya yang asli Ambon ini sangat mencintai kucing-kucing kecilnya, terkadang Nunun menakut-nakuti kami dengan kucing kecil peliharannya itu, dia sedikit nakal.
Khairul Hamzah (Pleman) sedang berlagak seperti
pemuda India

Dan anak keduanya bernama Khairul Hamzah, dia adalah pria kecil yang sangat mudah merajuk, dan ketika ia merajuk maka wajahnya akan semakin tampan. Hamzah selalu menyebut dirinya Hamzah Pleman ketika ditanya siapa namanya. Karena dia sangat suka dengan karate, terlihat dengan kesehariannya yang suka bergaya ala jagoan india yang sedang berkelahi.


Diskusi jelang aktifitas Sarafri Ramadhan

            Di dalam rumah sederhana dengan dinding rajutan bambu itu kami sedikit membuka diskusi tentang tempat tinggal yang akan aku, tari dan dani tempati Sembilan hari kedepan, dikarenakan rumah Mak Nunun hanya berisikan satu kamar dan sangat merepotkan bila kami bertiga ikut tidur di dalamnya, maka Mak Nunun menwarkan kami untuk tinggal di rumah orangtuanya yang kebetulan hanya tinggal sendirian dengan tiga kamar di rumahnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di rumah ibu dari Mak Nunun, yang biasa disebut Karo, awal-awalnya lidahku masih sangat canggung menyebunya, tak jarang aku terlepas memanggilnya nenek atau bahkan opung, seperti panggilan untuk nenekku. Namun ala bisa karena biasa.
Awal kegiatan kami mulai dengan memakmurkan masjid yang hari-hari sebelumna seakan mati seperti tidak ada penduduk islam di sekitanya. Entah bagaimana sebelumnya, yang pasti sejak kedatangan kami, hanya kamilah yang menjadi orang pertama yang datang ke masjid, untuk mulai membersihkan masjid dan mengumandangkan suara ngaji sebelum azan dan setelahnya mengumandangkan azan.
Masjid Al-Ikhlas Desa Sukadame; Perlu perbaikan

Jika kita bandingkan masjid ini dengan masjid di kota, pastilah sangat jaug perbandingannya, dinding masjid ini belum diplaster dengan semen atau bahkan keramik, kamar mandi yang sangat tidak terawatt dan tidak layak, dan bahkan tempat wudhu yang sayang berbahaya, karena bila ingin mengambil wudhu harus menghidupkan mesin terlebih dahul karena mengenakan sanyo, salah salah bisa kesetrum.
Karena murid yang akan diajarkan sebagai program kerja safari ramadhan ini belum ada, jadi hari pertama di masjid hanya dihabiskan untuk membersihkan masjid agar terasa nyaman untuk beribadah di dalamnya.
Ini saya, sedang membersihkan karpet Masjid ^^

Selepas ashar kami kembali ke rumah Karo, dan berkunjung ke rumah Mak Nunun, dan kebetulan Mak Nunun menyuruh kami untuk meminta kelapa pada Mak Kesha yang merupakan kakak kandungnya, rumahnya pun tak jauh dari rumah Mak Kesha. Dengan senang hati kami mendatangi rumah Mak Kesha, dan Mak Kesha pun menyambut baik kedatangan kami. Setelah kami menyampaikan maksud kedatangan kami, Mak kasha pun membawa kami menuju belakang rumahnya untuk memetik langsung buah kelapa dari pokoknya.
Mak Kesha sedang menjala kelapa muda

Dan ternyata tinggal di desa itu menyenangkan, daerah tempat kami tinggal di kelilingi oleh tanaman-tanaman, hingga itulah yang membuat warga desa jarang ke kota, karena jika ingin makan mereka tinggal petik langsung dari pohonnya. Mulai dar pohon cokelat, pohon jeruk, papaya, cabe, kunyit, ubi, manggis, pisang, petai, jengkol hingga durian.
Setelah berburu kelapa, aku dan tari memasak untuk berbuka puasa. Ternyata selama ini Karo tdak pernah masak, maklum karena kondisi yang sudah tua mengakibatkan dia tidak bisa lagi ke dapur, terlebih dia punya anak perempaun yang setiap hari mengantarkan lauk untuk dia makan. Karo memberikan kami bahan ikan teri dan daun ubi. Kami langsung memasaknya dengan pengalaman ala kadarnya, untungnya tari masih punya pengalaman masak yang baik, tidak seperti aku, yang ke dapur saja bisa dihitung berapa kali. Tapi, aku sering melihat mamaku masak di rumah, jadi aku masih ingatlah bagaimana memasak dengan bahan daun ubi.
Menu berbuka hari pertama di desa Sukadame

Akhirnya kami membagi tugas, aku memasak sayur daun ubi dengan santan dan tari memasak ikan teri sambal. Keadaan memasak tidak terlalu sulit, tidak seperti yang aku bayangkan, di rumah karo sudah menggunakan kompor gas, jadi memudahkan kami untuk memasak, cabe dan kelapa tinggal petik, dan memarutnya tinggal diupah saja di warung dekat rumah karo.
Buka bersama Karo dan dua cucunya yang lucu

Usai memask kami menunggu saatnya berbuka puasa bersama karo dan dua cucunya yang lucu-lucu, karena Hamzah dan Nunun tidak ingin pulang, maka mereka berdua berbuka puasa bersama kami meskipun mereka tidak berpuasa.
Selesai berbuka, kami melaksanakan sholat maghrib berjamaah di rumah. Selepas itu kami langsung berangkat ke masjid lebih awal untuk mengumandangkan azan isya yang akan dikumandangkan oleh Dani. Dan tibalah pertunjukan yang ditunggu-tunggu oleh para warga jamaah sholat tarawih, yaitu ceramah. Ceramah selama Sembilan hari ini akan dilakukan bergilir, dan malam pertama di Desa sukadame ini akan dibawakan oleh Dani, karena malam sebelumnya Dani hanya memantau dan belum melakukan aktifitas apa-apa.
Ceramah perdana Ust Ramadhani di Masjid Al-Ikhlas

Setelah ceramah, langsung melaksanakan sholat tarawih yang diimami oleh Ustadz Ramadhani, sebagai mahasiswa IAIN SU, menjadi imam dalam sholat sudah menjadi kewajiban utama di manapun ia berada, pun juga membawakan tausyiah, semoga berkah, aamiin.
Ini dia calon imam yang baik untuk keluarga, hehe ^^

Nah, sepulang tarawih ada momen yang sangat mendebarkan ketika menempuh perjalanan pulang ke rumah. Desa Sukadame adalah mayoritas non-muslim, dan semua warga non-muslimnya memiliki anjing di setiap rumahnya, dan ketika aku, Tari, dan Dani beserta Hamzah dan Nunun melintasi rumah-rumah warga, maka siap-siaplah menayantapi aungan anjing yang saling bersahutan, saling memanggil satu sama lain, bahkan anjing yang tenga tidur pun akan ikut menggonggong ketika itu. Bulu kuduk merinding berada diikuti setan, ketakutan mendera, rasa-rasanya anjing akan segera menerkam. Namun ada rahasianya agar tidak dikejar anjing, yaitu tetaplah santai, jangan sampai terdengar suara seretan sandal dan jangan lari.
Setelah sampai di rumah, berasa mendapat medali kemanangan karena terbebas dari gonggongan anjing-anjing ganas. Dan belum sampai di situ, jangan harap bisa tidur nyenyak, karena tiap tengah malam anjing akan mulai mengaum, seperti melihat makhluk halus. Aaaaaa.. suara anjing itu tepat di samping kamar kami, suasana dingin pun tak kuasa melelapkan tidur kami dikarenakan gonggongan anjing seperti srigala menemukan mangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Instagram @agnesiarezita