Jumat, 26 Juli 2013

# TRAVEL

Hari-1; Sepuluh Hari Mencari Berkah di Kampung Ramadhan

2013 Masehi, 1434 H. Ini tahun pertama aku memberanikan diri menjadi musafir yang hijrah untuk seutas berkah dan ridho dari Illahi. Setelah tahun lalu aku tak mendapat izin dari mamaku untuk tidur di rumah orang, dengan alasan yang sangat klasik sekali, yang sejujurnya malu untuk aku ungkapkan jika teman-temanku menanyakan alasanku untuk tidak ikut Safari Ramadhan tahun lalu. “Tidur di rumah orang itu bahaya loh Nak, ntar pasti banyak nyamuk. Apalagi Nesya kan punya alergi kulit, kalau di desa gitu pasti mandinya di sungai ‘kan.” Dan blablabla.. karena memang kebetulan tahun lalu aku lagi sakit, jadi tidak diizinkan untuk ikut. Begitulah seorang ibu, ada saja alasan untuk melindungi buah hatinya, meski sang anak sudah hampir kepala dua.
Tahun ini aku berangkat bersama rombongan para jurnalis kampus dari Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika IAIN Sumatera Utara. Karena masih bernaung di bawah atap organisasiku inilah, aku mendapat izin dari mamaku. Awalnya banyak dari kru pers yang berminat untuk ikut, bahkan hampir 50 kru, namun dengan berbagai alasan, banyak yang berguguran, kemauanku hampir ciut, namun kuperbaiki lagi niatku untuk ikut safari ramadhan yang merupakan program kerja Ad-Dakwah Sumut ini, aku niat karena Allah ta’ala, bukan karena ikut-ikutan, atau karena sekedar cari pengalaman. Apalagi mendengar pernyataan Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika IAIN Sumatera Utara yang sudah terlebih dahulu terjun menjadi tim safari ramadhan tetap di Ad-Dakwah yaitu Siti Nur Jannah Tbn, bahwa banyak di daerah terpencil yang membutuhkan ilmu kita, bahkan mereka banyak yang belum mengenal Rasulullah SAW, miris sekali. Bukan hanya diikuti oleh mahasiswa IAIN SU khususnya organisasiku, namun juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas di IAIN SU, UMSU dan juga UISU.

Angkutan Umum yang dicharter menuju Pancur Batu

Keberangkatan dimulai pada hari senin, 15 Juli 2013, pukul 15.00 WIB titik kumpul di depan Aula IAIN SU. keberangkatan ini menaiki angkutan umum yang telah di charter terlebih dulu. Dengan suasana yang sangat terik, membuat para dai dan dai’ah kelelahan di dalam angkutan umum, termasuk aku. Sebenarnya aku belum pantas di sebut dai’ah, namun kebanyakan tokoh-tokoh di desa memanggil kami begitu, namun baiknya aku memanggilnya tim safari saja, soalnya aku merasa belum pantas disebut dai’ah.
Seluruh mahasiswa berjumlah hampir 20 mahasiswa, dan ada Sembilan desa yang akan menjadi titik dakwah para tim safari, setelah tim safari dibagikan, aku mendapat tim pertama di Desa Baru bersama Mentari Maya Angela Br Gultom yang merupakan teman sekelasku. Sebelum para tim safari di sebar ke desa mereka masing-masing, kami menghadiri undangan buka bersama di Masjid Jami’  Pancur Batu Kota.

Singgah di Masjid Jami' Pancur Batu sebelum
Tim Safari nyebar di Desa masing-masing

Dengan menempuh perjalanan dua jam lebih, aku dan tim safari ramadhan lainnya rehat sejenak sembari menunaikan sholat ashar di masjid tersebut, setelah itu menyiapkan menu berbuka puasa bersama dengan para tokoh masyarakat setempat. 

Buka Bersama di Masjid Jami' Pancur Batu

Usai berbuka puasa bersama, para tuan rumah di masing-masing desa menjemput para tim safari ramadhan, namun tuan rumah di desa yang akan kami singgahi tak kunjung datang, awalnya aku dan Mentari di tempatkan di desa baru, namun desa tersebut ternyata tidak membutuhkan wanita, karena desa mereka sangat membutuhkan imam masjid dan juga beberapa dai laki-laki. Yah, apa boleh buat, akhirnya aku dan mentari di tempatkan di desa Sukadame, di mana si Ramadhani menetap sendirian di sana, alhasil kami menjadi satu tim di desa Sukadame.
            Aku dan Mentari mengikuti sholat isya dan tarawih di masjid Jami’ dan tentunya mendengarkan ceramah dari Ustadz yang jauh-jauh diundang dari Medan, inti dari ceramah yang disampaikan ustad tersebut bahwa “jika kita ingin bahagia di akhirat, maka kita harus bahagia juga di dunia.” Statement ini mendatangkan kontrofersi, namun setelah mendengar wejangan dari kak Faiz bahwa kita memang harus bahagia terlebih dahulu di dunia, karena bagaimana bisa kita menjalankan ibada sholat jika kita tidak memiliki mukenah, bagaimana kita bisa membayar zakat jika kita tidak memiliki uang, sedangkan rasul mengatakan bahwa tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Dan berbagai hal lainnya. Dan semua kebahagiaan itu harus kita lakukan dengan usaha dan doa.

Mendengarkan Cerama sebelum sholat Tarawih

            Karena tidak mungkin untuk menempuh Sukadame pada malam hari, aku dan Mentari bermalam di masjid Nur Syakirin yang tak jauh dari masjid Jami’, di mana ada tim kak Nurul Habibah di sana, juga bersama tim pemantau semua desa yaitu kak Jannah dan kak Faiz.

Sahur Bersama Tim Pemantau Safari Ramadhan di Masjid Nur Syakirin

Setelah pulas tidur di atas karpet masjid Nur Syakirin, kami menjalankan ibadah sahur dengan bekal yang dibawakan oleh tokoh di desa tersebut, (lupa namanya) yang juga merupakan Pembina di Ad-Dakwah Sumut. Setelah shubuh, kami melakukan tadarus bersama, untuk saling memperbaiki bacaan dan meraup pahala yang Allah janjikan berlipat-lipat.

Tadarus Bersama lepas Shubuh



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Instagram @agnesiarezita