Rabu, 10 Agustus 2016

# PERSONAL

ORGANISASI NOMOR SATU, KULIAH HARGA MATI

Ada istilah mahasiswa kupu-kupu yaitu mahasiswa yang kegiatan rutinnya kuliah pulang-kuliah pulang, sampai di kost tidur, alhasil yang didapatkannya hanya lelah seharian di dalam kelas, pun di dalam kelas hanya melakukan kegiatan 3DP (Datang Duduk Diam Pulang), apalagi bila mahasiswa ini anak perantauan, mengingat betapa sulit ayah dan ibu memeras keringat di kampung demi kuliahnya di kota, seakan sia-sia.

Saya ingat defenisi mahasiswa yang dikatakan oleh dosen saya ketika duduk di semester satu, beliau mengataka bahwa defenisi mahasiswa adalah membaca, karena di dalam ruang kelas, dosen hanya sebagai pengantar dan mahasiswa lah mencari ilmunya sendiri, dengan membaca maka ilmu akan berkembang pesat lewat retorika berbicara, presentase, namun tidak sedikit mahasiswa yang sulit untuk berkomunikasi dengan baik.
Untuk memperbaiki diri menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa adalah berkecimpung di dunia organisasi. Organisasi adalah guru yang paling bijaksana dalam mendidik mahasiswanya, berkembang mencari jati diri, bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang siap mental menggemparkan dunia. Bagi sebagian orang, organisasi adalah penghalang mahasiswa untuk meningkatkan IP, penghalang mahasiswa untuk tamat tepat pada waktunya. Tidak salah, karena memang kenyataannya sebagian besar begitu, namun pada dasarnya hal itu tidak akan terjadi jika mahasiswa tersebut bisa memanajemen diri sendiri dalam berorganisasi.
Bagi aktifis kampus, organisasi adalah nomor satu. Agaknya organisasi sudah seperti jurusan kedua yang ia ambil di universitas yang ia geluti, pun kuliah merupakan harga mati. Kenapa? Karena mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara kuliah dengan organisasi. Bukan yang organisasinya hebat, namun kuliahnya anjlok ataupun sebaliknya. Di organisasi, mahasiswa akan belajar menjadi pemimpin, belajar untuk lihai berbicara (bukan bersilat lidah). Dan orang besar adalah orang yang lahir dari rahim organisasi.
Harga mati, tidak ada alasan untuk bernegosiasi dalam kuliah, karena tujuan awal untuk masuk ke kampus tersebut adalah untuk kuliah (bukan cari jodoh), dan organisasi adalah jalan untuk mencapai kuliah yang maksimal. Dan lagi-lagi harus benar-benar saya tegaskan, tidak sedikit mahasiswa yang lengah dalam menentukan pilihan antara kuliah dengan organisasi, ketika nama seorang mahasiswa sudah besar di organisasi, tidak sedikit yang kualitas kuliahnya jatuh perlahan, baginya nama yang sudah melambung hebat adalah senjata untuk menarik perhatian dosen, padahal itu adalah mindset yang tidak benar. Ketika seorang mahasiswa mampu mengikuti kuliah dengan baik, kehadiran mencukupi, presentasi memuaskan, tugas-tugas dikerjakan, dan kelihaian di organisasi mantab, itu adalah mahasiswa yang sebenarnya.
Pun ketika banyak orang mengatakan bahwa organisasilah yang membuat mahasiswa anarkis dalam menyampaikan aspirasi ketika demo, itu tidak salah juga. Karena kerasanya dunia organisasi terkadang membuat mahasiswa tidak ingin kehidupan disekitarnya di usik, namun salahnya, mahasiswa seperti ini tidak memandang pada kualitas dirinya dulu, namun sudah pandai berkoar tentang kualitas pihak lain, kuliahnya saja masih amburadul, masih mau berdemo soal kualitas pemerintah yang amburadul. Lumayan jika kuliahnya mantab, organisasinya oke, itu baru namanya mahasiswa sebagai agen perubahan, dan semua itu tidak lepas dari namanya manajemen organisasi yang baik. Karena prinsipnya adalah organisasi nomor satu, kuliah harga mati. Tidak ada kompromi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Instagram @agnesiarezita