Monday, August 1, 2016

# FAMILY

MANFAATKAN LIBURAN DENGAN BERKEBUN DI BERASTAGI

Metik tomat sendirišŸ˜

23 Juli 2016, Sabtu itu menjadi weekend paling berkesan di bulan July. Pasalnya aku dan rekan kerja mengisi waktu liburan dengan berkebun di Berastagi. Berastagi tentunya sudah terkenal dengan lokasinya yang subur akan tanaman. Mulai dari sayur-sayuran, rempah-rempah hingga buah-buahan. Nah, di kebun yang kami datangi kali ini adalah kebun sayur dan buah. Memang tidak terlalu luas, yang pasti bisa mengisi waktu libur dengan kegiatan bermanfaat.



Bersama rombongan dengan mengendarai dua mobil, kami meninggalkan Medan menuju Berastagi sekitar pukul lima sore. Perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam disuguhkan dengan keindahan pemandangan Sibolangit, ditemani gerimis yang manja hawa-hawa dingin mulai menusuk kalbu, hingga akhirnya membuatku mengatupkan mata barang sejenak sebelum tiba di penginapan kebun.


Sekitar pukul delapan, kami tiba di penginapan kebun. Penginapan kebun yang kami singgahi memasuki arah Pagoda Lumbini, yah paling sekitar 20 menit dari Pagoda tersebut. Setiba turun dari mobil, gerimis masih menyambut kami dengan manjanya, mengundang gigil yang sembilu. Berasa ingin tarik selimut tapi tak kuasa melakukannya.


Usai berberes, kami melanjutkan dengan aktifitas makan malam. Tentunya dengan bekal yang sudah kami bawa dari Medan. Rumah penginapan berlantai dua itu terasa sejuk, fasilitas yang lengkap membuat kami betah. Karena juga tersedia air hangat untuk mandi. Jadi walau dingin, mandi tetap tidak lewat ya.


Ada yang istimewa di malam ini, aku kira setelah makan malam agendanya langsung tidur. Karena suasana yang luar biasa dingin, angin seliwiran menggoda telinga, bahkan jaket saja tidak cukup. Kami masih harus melewati satu momen penting, yaitu menyantap durian Berastagi. Wah, lama sudah tidak makan durian. Durian yang disediakan tidak lebih dari sepuluh, tapi rasanya tidak kuasa menghabiskannya. Suana berkumpul bak piknik malam itu terasa sangat khitmat. Bercengkerama sembari menikmati manis pahitnya durian yang lezat. Nah, usai santap menyantap durian. Tradisi orang tua adalah mencuci tangan dengan kulit durian di dalam mangkuk pencuci tangan, agar bau duriannya tidak tertinggal di tangan. Lalu kulit durian yang sudah kosong dari isinya tersebut di isi air minum kemudian kita minum. Gunanya dipercaya agar yang memakan durian tidak mabok durian.

                             

Usia menyantap durian yang tentunya masih bersisa banyak, kami lanjut mengistirahatkan tubuh. Wow, tempat tidurnya saja dingin berasa di uapkan di lemari pendingin. Untuk mengantisipasi dingin, kami tidur dempet-dempetan (read: rapat-rapat) agar tubuh terasa hangat. Selimut pun berbagi sama rata.


Yang paling dirindukan dari suasana pedesaan adalah suara burung yang membangunkan kita di pagi hari. Kabut lembut di sela-sela perkebunan juga embun yang berjajar rapi di dedaunan. Sungguh pagi yang indah. Tak henti bersyukur saat bangun pagi membuka pintu, pemandangan pegunungan yang dicumbui kabut, burung-burung berterbangan membentuk huruf V di langit. Tak henti mengucap syukur dan menarik nafas panjang-panjang. Karena udara sejernih ini tidak lagi ditemui saat kembali ke kota Medan nanti.


Usai mandi dengan air hangat dan menunaikan sholat shubuh. Para pejuang rumah tangga pun mulai bertempur di dapur. Ongseng-ongseng menyaingi santap restoran ternama. Tentunya dengan menu masakan yang diambil dari kebun. Sayur brokoli, sayur kol, kacang panjang, cabe, tomat dan sebagainya.


Setengah jam bertempur dengan kuali dan teman-temannya. Akhirnya menu santap sarapan pagi pun selesai. Tentunya menu sehat ala pedesaan. Rebusan dan belacanan. Makanan ala-ala lidah orang Indonesia. Meski begitu, nikmatnya hidup terasa di sini.


Nah, kegiatan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Yaaaa berkebun. Melihat dari dekat sisi kebaikan tanah subur. Melihat embun pagi yang belum pergi, menikmati kabut yang mulai surut. Ternyata berkebun tidak hanya butuh ilmu tapi juga pengalaman. Tanah subur yang ada di depan mata kami ternyata entah berapa kali berganti tanaman,  segala macam tanaman dicoba hingga tanaman dengan modal terkecil dan untung terbesar lah yang akhirnya ditanam hingga saat ini. Seperti Sayur Brokoli, tomat dan buah Terong Belanda. Sayangnya pada saat kami datang terong belandanga masih hijau, jadi tidak bisa dipetik.


Berkebun saat liburan itu seru. Selain jauh dari perkotaan, jauh dari penat tugas kerjaan, berkebun juga menambah keakraban dan meraub keuntungan. Biar berkotor-kotor asal dapat ilmu dan manfaat. Karena berani kotor itu baik.


Sepulang dari berkebun tentunya kami dihadiahi oleh-oleh. Yaitu sayur-sayuran yang melimpah. Banyak jenisnya dan tentunya tidak bisa hanya masuk dalam satu kantong plastik. Harus dibawa dengan goni. Bayangkan betapa banyaknya. Alhamdulillah weekend kali ini bermanfaat dan menguntungkan.


Untuk kalian yang mencari referensi liburan yang seru juga bermanfaat, bisa mendatangi kebun-kebun yang ada di Berastagi. Banyak manfaat menunggu dituai di sana. Happy weekend.

2 comments:

  1. Hi Kak. Nama dan kontak penginapan yg kk tulis di sini apa ya... Mohon info ya. Terima kasih :)

    ReplyDelete

Follow Me on Instagram @agnesiarezita