Merdeka Itu Ada di Sini

18.44.00

Tidak akan ada habisnya jika kita membahas tentang kemerdekaan. Karena hakikat kemerdekaan adalah “Kebebasan” dan bagi mereka yang mengaku merdeka hanya mereka yang memang sudah merasa bebas tak terbelenggu. Belenggu? Mungkin jika ditanya pada masyarakat yang jauh di ujung mata dan jauh di ujung telinga, mereka akan mengatakan bahwa belenggu itu adalah kemiskinan yang nyata, mereka akan mengaku belum merdeka karena “perut” mereka terasa terusik. Bagaimana tidak? Itulah kenyataannya.
Dan tidak akan ada habisnya membahas soal koruptor yang melanglang buana di seisi kota, tidak akan pernah ada gunanya! tapi senyum kecil nan riang para bocah pingiran kota adalah kemerdekaan, bagi orangtuanya. Biarlah, pun itu yang seharusnya kita katakan pada mereka. Ambillah, ambil saja semua, jikalau tanah peninggalan nenek buyut kami mampu mengenyangkan perutmu, ambillah, tapi jangan ambil senyum mereka. Senyum bocah-bocah yang mampu menularkan virus riang bagi keletihan ibunya, menularkan semangat juang bagi retaknya tulang punggung ayahnya.

Di sudut kota terlihat sang saka merah putih terbentang berkibar tersayup angin, itukah merdeka? Ketika bendera mampu berkibar di atas puncak tiangnya. Senyum para bocah di ujung desa terlihat lebih sumringah dibandingkan dengan kepakan bendera mewah tersebut. Bagaimana tidak, pasalnya bocah-bocah tersebut tulus menyambut kalahiran Indonesia dengan hati yang bersih, jauh dari raup korupsi. Tak pernah terbayangkan oleh mereka bahwa jatah makan siang mereka sudah masuk ke perut para tikus kantor. Pun itu tidak membuat senyum mereka lepas sedikitpun, bagi mereka kemeredekaan adalah kebahagiaan tanpa usikan yang nyata.
Lengkingan tawa riang terdengar jelas, lewat kemeriahan perayaan 17 Agustus-an yang dirayakan di pelosok desa negeri ini. Semangat berkobar layaknya pahlawan di Medan perang, layaknya semangat para koruptor membabat apapun yang bisa dimakan. Bocah berhati tulus ini tak pernah hiraukan itu, baginya semangat menyambut kelahiran Indonesia adalah apresiasi cintanya. Seperti yang aku katakan, pada hari itu Indonesia terlihat benar-benar merdeka, tak terbesit sedikit pun tentang perut yang nanti akan merongrong minta diisi, terpenting adalah ikut merayakan kelahiran Indonesia dengan senyum sumringah, dengan harapan senyum dan tawa itu akan bertahan hingga para koruptor punah.

>> Dari bibir anak bangsa akan tetap terdengar kata merdeka, tergambar semangat merdeka lewat tangan akan tetap terkepal untuk melawan penjajahan diri. Bukan di sana, di bibir dan kepalan tangan para koruptor. Tapi di sini, di bilik rumah sederhana, bernama hati yang bersih. Dirgahayu Indonesiaku ke-68, terus pancarkan semangat juang para pahlawan.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Karena gonta-ganti template. Semua komentar di post ini hilang. Silahkan tinggalkan komentar ya ^^ Terimakasih untuk komentar anda di postingan ini :)

    BalasHapus

Subscribe