Funland Micky Holiday, Wahana Liburan Penguji Adrenalin

01.44.00

2013, ini tahun pertama dimana tidak ada namanya kunjungan keluarga untuk mendatangi saudara-saudara yang tinggal di kota Medan dan sekitarnya, setelah tahun-tahun kemarin hari raya selalu dihabiskan untuk menjelajahi rumah-rumah sanak saudara yang ada di Medan, mau itu saudara lebih tua ataupun saudara lebih muda, prinsipnya yang penting bersilaturrahmi. Berbeda dengan tahun ini, setelah papaku mengalami sakit yang tidak memungkinkan untuk berlalu-lalang keliling Medan, maka diputuskanlah kami hanya bertandang di rumah sendiri menanti tamu-tamu kehormatan.
Boleh dibilang sedih bila mengingat Tunjangan Hari Raya tahun kemarin dengan tahun ini, perbandingannya jauh banget, jangankan 1:10, bahkan lebih rendah dari itu, tidak ada perbandingan malah, tapi Alhamdulillah sudah bisa bertemu dengan idul fitri tahun ini, setidaknya masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan merasakan kemenangan setelah sebulan lalu terkungkung menahan diri, namun bukan berarti apa-apa yang ditahan di bulan lalu itu bisa dilakukan di bulan suci ini, justru setelah bulan Ramadhan berkah telah berlalu, kita harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dan sudah bisa memiliki lima macam kue untuk menjamu tamu pun itu sudah sangat Alhamdulillah jika mengingat betapa banyaknya kue-kue yang super lezat di rumah-rumah tetangga. Dan jikalau tamu tidak berkenan menghabiskan kue-kue yang kami siapkan, ya sudah barang tentu kue-kue lezat di atas meja ruang tamuku itu akan kami habiskan tanpa sisa. Begitu pun dengan baju lebaran yang menjadi kebanggan para remaja jaman sekarang, aku masih saja mengandalakan lirik-lirik lagu yang selalu mendendang di telingaku ketika lebaran akan tiba, “Baju baru Alhamdulillah, untuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju tetangga *eh, baju yang lama maksudnya.” Alhamdulillah, setidaknya masih punya baju untuk menutupi aurat, toh di luar sana masih banyak yang tidak pakai baju. Lagi, Alhamdulillah.
Suasana terasa sangat-sangat berbeda, begitupun dengan hikmahnya. Jikalau tahun lalu selalu sibuk mendatangi rumah sanak saudara dan aku beserta adik-adikku selalu mendapat Tunjangan Hari Raya, maka tahun ini Mama dan Papaku lah yang harus mengeluarkan THR untuk sanak saudara yang hadir di rumahku. Nah, terasa banget kan berkahnya, Rasul saja lebih senang dengan tangan di atas daripada tangan di bawah. Begitu pun dengan tahun ini, jadi tidak ada yang perlu disesalkan.
Setelah dua hari hanya berdiam diri di rumah, tiba-tiba datanglah berkah dari langit. ketika hari berlalu bukan hanya sekedar untuk berlebaran namun juga untuk liburan. Meski agak sedikit sedih mengingat Tunjangan Hari Raya tak terlihat lagi wujudnya di dalam dompet, aku bisa menyungging senyum ketika teman lelakiku mengajakku liburan ke Funland Micky Holiday. Yuhuuu, betapa senangnya diriku mendengar kabar itu, secepat kilat aku mempersiapkan diri dan mental untuk bertempur dengan wahana-wahana yang akan memicu adrenalin.
Kami berangkat 10 Agustus 2013 sekitar pukul 09.00 WIB dari Medan menuju Micky Holiday yang letaknya di Jl. Raya Medan Berastagi, Sumatera Utara Indonesia, melewati wahana permainan Hill Park. Dengan mengendarai sepeda motor kami melaju menebas dinginnya suasana pegunungan, meski dingin begitu menusuk tulang namun terik matahari pun tak kalah membakarnya. Meski begitu kami tetap bersikukuh untuk sampai ke tempat tujuan, karena ada Helm, masker penutup mulut, dan jaket yang selalu siap sedia menemani detik-detik roda berputar menuju titik puncaknya Funland. Demi keselamatan dan juga kenyamanan, perlengkapan seperti itu harus benar-benar dipersiapkan, bukan hanya mental yang kudu dipacu.
Sekitar pukul 13.00 WIB kami tiba di Funland Micky Holiday, terlihat begitu banyak pengunjung yang berbondong-bondong memenuhi parkiran, bahkan juga di pintu masuk ketika kami hendak memesan tiket masuk. Dengan hanya empat pintu pembelian tiket yang disediakan, dan jumlah pengunjung yang membludak di libur lebaran ini membuat kami harus mengantri panjang dan benar-benar menahan kesabaran. Hingga akhirnya kami mendapatkan tiket masuk dengan harga Rp. 85.000,- untuk dua orang
Beli satu tiket, antriannya panjang banget
Setibanya di dalam wahana permainan impianku ini, rasanya ingin menaiki semua wahana secara bersamaan, tak perduli mendengar suara teriakan para pengunjung lain yang hampir memekakan telinga. Untuk permainan pertama kali kami mencoba memicu adrenalin dengan menaiki wahana dengan nama Twister, perkiraanku permainan yang seperti piring putar ini sangatlah sederhana, setidaknya tidak terlalu memicu kekagetan jantungku seperti permainan lain yang terlihat seperti mengobok-ngobok isi perut. Namun ternyata, aku hampir muntah di buatnya, mata sudah tak kuat untuk terbuka, jalan pun sudah sempoyongan, padahal ini baru permainan yang pertama.
Setelah jantung sudah hampir mereda, aku dan teman lelakiku yang bernama Yusuf Gunawan ini mencoba permainan yang kelihatannya lebih menegangkan, Sea Moster. Permainan yang wujudnya seperti gurita sedang marah ini mampu menarik perhatian para pengunjung hingga antriannya mampu memakan waktu hingga dua jam, luar biasa. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya tibalah giliran kami untuk menugganginya. Wah, suaraku hampir habis karena terlalu banyak menjerit. Alih-alih takut mati, haha.
Sea Monster
Setelah dua kali mencoba permainan yang hampir memberhentikan denyut jantung, akhirnya kami mencoba permainan yang sedikit lebih santai namun bisa mematikan bagi mereka yang phobia pada ketinggian. Yaitu Sky Bike, kelihatannya sangat sederhana, karena hanya bermodalkan dayungan pada lingkaran besar yang kita tunggangi, namun yang memicu adrenalin di sini adalah ketika kita harus mampu mendayung lingakaran tersebut mengelilingi jalur yang telah ditentukan dengan ketinggian yang super sekali, untungnya aku tidak takut pada ketinggian, namun harus benar-benar mengumpulkan energi untuk mendayung roda tersebut sampai di jalur tujuan.
Sky Bike
Akhinya jantung sedikit mereda setelah tadi sibuk memompanya. Dan kami tidak berhenti sampai di situ, kami melihat jalur kereta api tepat di atas kepala, dan rasa ingin tahu untuk mencobanya benar-benar harus terealisasikan. Dan kami pun rela mengatri panjang sekali demi merasakan hebatnya menaiki permainan Dino Tracker,  permainan dengan jenis kereta api ini sudah sering aku lihat di televisi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk terus berjuang menghabiskan antrian, bagaimana pun keadaannya kereta api yang berjalan di jalur langit itu harus bisa aku rasakan serunya.
Dino Tracker
Dam akhirnya, Yuuhuuuu…. Kereta melaju dengan kencang, mengikuti jalur yang berkelok-kelok. Untuk saja tidak ada jalur yang memposisikan kepala di kaki, jika ada maka bisa tamatlah riwayatku. Jalur yang begitu saja sudah ribuan kali nama Tuhan kupanggil-panggil, bagaimana jika jalurnya seperti yang kubayangkan tadi, wah gawat.
Dan permainan yang membuatku aku jerah adalah permainan T-Trex. Seperti yang aku takutkan tadi, ketakutanku ketika kepala diposisikan di kaki, akhinya terjadi juga. Permainan dengan bentuk dinosaurus dengan dua tangan ini seperti mengamuk. Ia seperti menghempaskan kedua tangannya, dan kamilah yang berada di sisi tangan yang ia hempaskn itu. Aku tidak bernyali untuk membuka mata, pun jikalau harus membayangkannya. Perut sudah sangat terasa mual, dan darah rendah ini sepertinya tidak mau berkompromi padaku lagi. Mataku mulai berkunang-kunang, jalanan seperti tengah terjadi gempa, sempoyongan. Ampun, aku tak ingin bermain yang lain-lain lagi.
T-Trex
Setelah mulai jerah, hanya Yusuf saja yang melanjutan permainan yang lain. Setidaknya permainan yang lain diwakilkan olehnya untuk dinaiki. Hematku semua permainan itu sama saja, sama-sama membuatku gila. Yusuf mulai bermain Dino Egg yaitu permainan telur dinosaurus yang berputas-putar dengan kecepatan tinggi.
Dino Egg
 Kemudian Yusuf bermain Koomba Dence, aku hanya bisa menikmati jeritan dia saja dari bawah ketika mesin-mesin ganas itu hampir membuat jantungnya tak berdegup lagi, namun pria ini masih saja kuat.
Koomba Dance
Dan dilanjutkan dengan permainan lainnya yaitu Carnival Gamens,
Carnival Gamens
Kemudian diakhiri dengan permainan Space Car (Biasa disebut Bom-Bom Car). Setelah lelah dengan itu semua, kami bertemu dengan seorang badut. Dan aku menyempatkan diri untuk berfoto dengannya, lumayanlah ini kali pertama berjumpa badut sungguhan.
Pose bareng Badut
Langit sudah memerah, senja mulai temaram. Waktunya untuk kembali ke kediaman. Rasanya sudah sangat lelah sekali, namun bahagia juga tak terkira. Suasana mulai hujan, dingin semakin menjadi-jadi, meski begitu kami harus menerjang jalanan dengan konsentrasi penuh, karena perjalanan akan terlihat gulita sekali, ditambah gerimis yang semakin deras. Terlihat hanya ada kendaraan roda empat, macet panjang. Untungnya dengan sepeda motor kami masih bisa menyalip hingga akhirnya waktu tidak terbuang lama untuk menunggu kemacetan.
Lelah hari ini, seperti lelahku berhari-hari di hari raya tahun lalu, ketika berhari-hari mengunjungi rumah sanak-saudara. Pun dengan Tunjangan Hari Raya, meski tahun ini terlihat seperti hanya bayangan, namun bahagiaku tahun ini seperti mendapat Tunjangan Hari Raya selama dua kali hari raya dan ditambah dengan Tjerita Hari Raya yang tak terlupakan dan bukan hanya sekedar THR berupa materi saja.





You Might Also Like

1 komentar

  1. Karena gonta-ganti template. Semua komentar di post ini hilang. Silahkan tinggalkan komentar ya ^^ Terimakasih untuk komentar anda di postingan ini :)

    BalasHapus

Subscribe