Minggu, 04 Agustus 2013

# TRAVEL

Hari-8; Sepuluh Hari Mencari Berkah di Kampung Ramadhan

Masih sama seperti sahur kemarin, kesiangan. Banyak faktor yang menyebabkan kesiangan, terlebih kenikmatan Allah memberikn tidur yang sangat nyenyak, dan Allah memberi kesanggupan dan cobaan karena kami adalah muda-mudi yang bisa bertahan dalam menjalankan ibadah puasa meski tidak melakukan ibadah sahur. Tapi insya Allah meskipun sahur lewat, sholat shubuh tidak boleh lewat.
Sebenarnya tidak mengapa bagi kami bila tidak sahur, namun ada rasa tidak enak pada Karo yang menampung kami di rumahnya, bahkan terbesit di dalam kepala rasa mencibir diri sendiri, di rumah orang kok bisa-bisanya kesiaangan. Tapi yam au gimana, toh itupun bukan mau kami. Meski begitu, kami harus tetap semangat menjalankan aktifitas seperti biasa, terlebih hari ini kami akan membantu Karo untuk memanen kunyit miliknya, setelah kemarin menyisihkan daun-daunnya terlebih dahulu.

Setelah melaksanakan tugas hari-hari, seperti membereskan rumah, memcuci piring, hingga masing-masing dari kami harus mencuci baju hingga saling berbagi jemuran, bahkan bila tidak kebagian jemuran, harus rela menjemur baju di jemuran tetang sebelah, seperti yang dilakukan si Dani kemarin. Itu karena dua anak gadis ini memiliki kapasitas pakaian yang lebih banyak daripada pria.
Melihat Karo dan dua anaknya tengah asyik membersihkan tungkul (sisa-sisa akar di badan kunyit) kunyit, kami pun langsung bergegas meluncur untuk membantu Karo. Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan Karo selain berladang, lading yang sengaja dilestarikan oleh anak-anaknya ini memang dibuat untuk mengisi waktu lengang ibu mereka. Karena mereka tahu bahwa sangat bosan sekali bila harus berdiam diri terus menerus di dalam rumah dengan tiga kamar dan hanya sendirian. Maka dari itu, Karo setiap harinya selalu ada saja kegiatan dari pagi hingga waktu beliau lelah untuk beristirahat, tidak ada yang mendesaknya, seperti kerja sebagai pegawai di dalam kantor.
Panen Kunyit
Karo dan Mak Hamzah; Panen Kunyit
Setelah membantu Karo dan dua anaknya memanen kunyit, terik siang kami berpamitan untuk pergi ke masjid demi sholat zhuhur berjama’ah dan tak lupa berpamitan bahwa kami juga ingin pergi ke sungai yang letaknya lumayan jauh dri masjid. Karena ketika kemarin aku dan Tari ikut ibu-ibu perwiridan menghadiri zikir akbar, si Dani sudah terlebih dulu menyinggahi sungai bersama anak-anak di desa.
Setelah menempuh jalanan yang menurun dan melewati lading sawit dan hampir tidak ada penduduknya, tibalah kami di sungai yang masih sangat alami, belum banyak dicampurtangani oleh manusia, sebab sungai ini menjadi salah satu tempat warga untuk mandi, atau bahkan digunakan oleh anak-anak untuk bermain. Sungai ini tak jauh beda dengan sungai Sembahe yang kemarin kami kunjungi, namun sejujurnya sungai ini juga patut dijadikan objek wisata.
Sungai Sukadame
Dilengkapi dengan batu-batu alam yang masih sangat alami sekali, terlihat bahwa kebanyakan bebatuan yang tergenang air mengalami pelumutan, pertanda bahwa air terus mengalir, tanpa ada gesekan lain selain air tersebut. Di sisi kanan kiri sungai pun masih dipenuhi pepohonan, seperti pohon beringin bahkan pohon bambu. Airnya yang sangat dingin membuat kami betah dan ingin sekali berlama-lama.
Sebenarnya kedatangan kami ke sungai bukan untuk mandi, namun hanya ingin memastikan bahwa di desa Sukadame juga memiliki sungai yang indah dengan perjalanan tempuh yang lumayan melelahkan bila kembali ke desa, bila pergi tadi ditempuh dengan menurun, maka untuk pulang harus mendaki, sangat melelahkan, terlebih bagi orang seperti kami yang jarang sekali mendaki.
Tim Safari Ramadhan @Sukadame
Nesya, Tari, Dani
Selama di sungai, kami serasa berada di depan kamera dan ditonton banyak orang di rumah lewat televise. Bagaiman tidak, aku, Tari dan Dani berlagang seperti di ustadz-ustadz di televise yang menyampaikan kultum yang bagroundnya sungai atau biasanya di tempat-tempat yang indah. Si Dani, lihai sekali berceramah dengan gaya bicara ala ustadz kondang di televisi di depan kamera handponeku yang sengaja aku abadikan menjadi video, begitu juga dengan Tari yang beberapa kali mengalami take ulang, hingga menimbulkan beberapa gelak tawa dari kami, pun juga aku. Namun ketika aku tengah berceramah, di tengah isi ceramahku muncul seorang bapak dari belakang kami. Apa yang dia lakukan?
Dia berjalan perlahan, memandangi kami dengan bahasa mata yang penuh tanda tanya, dan dan paling mengejutkan adalah bapak itu tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Antara takut dan lucu berkecamuk. Takut bila terjadi apa-apa, terbesit di otak bahwa bapak itu adalah orang tak waras, yang bisa saja mengganggu kami namun mana mungki orang gila bawa motor dan memarkirkannya di tepi sungai. Dan lucu, ketika harus menahan malu pada diri sendiri, kok kami jadi yang malu? Kan bapak itu yang tidak pakai celanan dan baju. Yaiyalah, malu bila harus melihat begituan.
Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang, karena tidak nyaman berlama-lama di sana jika harus disuguhkan dengan pemandangan yang begituan. Setibanya di rumah, aku masih melakukan kegiatan favoritku setiap hari, memandikan Hamzah dan Nunun. Waktu kami tingga dua hari hari, aku bakal merindukan suasana seperti ini, memandikan adik-adikku yang lucu-lucu ini.
Setelah ini bergegas memasak untuk keperluan berbuka puasa, kami juga ingin memasak bubu kacang hijau. Setelah dimasak, ternyata kacang hijaunya masih keras, semua karena ulahku, memasukkan santan ketika kacang hijaunya belum pecah. Ah dasar aku ini, sok pintar masak. Aku sempat menangis, menyesal bila melihat kedua teman sejawatku tidak bisa merasakan nikmatnya makan bubur kacang hijau, hanya kerana kebodohanku. Maafkan aku ya teman-teman.
Dan suasana masih saja beku, Dani juga tak henti meledekku hanya karena aku murung dan tak ingin bicara. Semua karena aku merasa bersalah. Tapi setidaknya ledekan-ledekan Dani itu bisa sedikit mencairkan suasana berbuka yang tinggal beberapa hari lagi kami jalani. Semua harus dilalui dengan senyuman, lain kali kalau tidak tahu ya bertanya, jadi tersesat begini kan. Padahal sudah ada pepatah yang mengatakan, “Malu bertanya sesat di jalan.” Namun bagi orang yang sedang dilanda mabuk cinta juga mengatakan “Malu bertanya, ya jalan-jalan.”
Nah, ini malam adalah saat yang ditunggu-tunggu. Mendengar Ustadzah Tari mendendangkan ceramah di mimbar masjid. Setelah satu harian berlatih, begitu juga ketika berada di sungai tadi siang, Tari tak henti berlatih ceramah di depan kami, serasa kami adalah jamaah ketika itu. Setelah sholat isya usai, tiba-tiba lampu listrik padam lagi, dan mengakibatkan Tari harus ceramah tanpa menggunakan pengeras suara, dan juga ceramah yang hanya bertemankan cahaya lampu duduk. Namun itu juga tak menyurutkan antusias warga untuk mendengarkan ceramah yang akan disampaikan oleh dara batak ini.
Di dalam ceramahnya, sedikit terselip ragu dan gugup. Namun ia tetap bisa melewatinya. Dan besok adalah hari terakhirnya kami tarawih di desa Sukadame, sedih harus meninggalkan mereka namun juga senang karena akan berjumpa keluarga di Medan.

1 komentar:

  1. Karena gonta-ganti template. Semua komentar di post ini hilang. Silahkan tinggalkan komentar ya ^^ Terimakasih untuk komentar anda di postingan ini :)

    BalasHapus

Follow Me on Instagram @agnesiarezita