Thursday, January 4, 2018

# ADVETORIAL # TRAVEL

Serunya Tahun Baruan di Tangkahan


Akhirnya, setelah mengingat tahun lalu tahun baruan di jalanan karena macet, tahun ini bisa ngerasain liburan beneran. So, tahun ini aku dan beberapa teman Blogger lainnya memutuskan liburan ke Tangkahan, Langkat, Sumatera Utara. Yeay, kubangga pada diri sendiri karena menutup tahun dengan begitu bahagianya.

Sebenarnya, kemana pun atau dengan siapapun kita pergi liburan, yang terpenting adalah bagaimana kita menikmati momen tersebut. Semisal pergi ke tempat kece atau jauh sekalipun, kalau travelmate atau suasana hati gak seru, so pasti momen bakal gak berkesan kan?

Nah, liburan kali ini aku berkesempatan menutup tahun 2017 bersama travelmate yang super seru dan "mengayomi" banget. Eaa mengayomi, Ayah kali ya mengayomi anak haha.

Beberapa tahun lalu, aku pergi ke Tangkahan bersama Pers Kampus tepat di awal tahun juga, saat itu acara pergantian pengurus gitu. Tapi, bedanya saat itu aku belum sepenuhnya mengelilingi Tangkahan yang katanya merupakan Ekowisata dengan pendapatan mencapai 12 M pertahunnya. Sebagai lokasi konservasi Gajah terbesar di Sumut, Tangkahan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa dengan objek wisata tersebut.


Aku dan teman-teman berangkat dari Medan pukul tiga sore menaiki mobil pribadi yang tahan banting untuk jalanan terjal. Kenapa tahan banting? karena untuk menuju ke Tangkahan, jalanannya masih belum ramah kendaraan, sebaiknya tidak untuk menaiki mobil yang rendah atau "ceper" karena ntar bakal nyangkut di jalan yang lika-likunya seperti kehidupan *lol. Tapi ya di situ letak serunya, di dalam mobil jadi berasa naik arung jeram gitu, terhempas-hempas seru lah pokoknya. Nikmati saja.



Perjalanan memakan waktu sekitar lima jam, dibarengi dengan singgah sholat Ashar dan Maghrib. Ada yang sangat disayangkan setiba di hutan Sawit tak jauh dari Tangkahan. Jalanan yang tidak mulus dan suasana yang sangat gelap gulita. Kemungkinan kalau datang ke Tangkahan tidak membawa guidge pasti akan bingung deh. Karena super gelap, dan dikelilingi pohon sawit. Hati-hati kesasar ya guys, ntar aku kasih informasi kontak kalau mau ke Tangkahan dengan guidge yang super "mengayomi"

Menginap di Linnea Cottage Tangkahan


Sesampainya di Tangkahan pukul delapan malam. Aku dan teman-teman lainnya menginap di Linnea Cottage. Penginapan nyaman dengan lokasi yang super strategis. Tidak hanya ada penginapan, Linnea Cottage juga dilengkapi dengan Restaurant yang view-nya langsung ke sungai yang airnya biru agak hijau *eh gimana sih haha* lokasi ini benar-benar tenang banget. Jauh dari hingar bingar perkotaan yang di malam tahun baru pasti hanya kedengaran klakson dan petasan. Suasana ini pas banget untuk orang sepertiku yang suka dengan ketenangan, suara air mengalir, burung di pagi hari, cahaya matahari yang hangat dan udara yang sejuk. Ah, gak ingin pulang.




Hikmah dari tidak adanya sinyal adalah aku benar-benar menikmati liburan ini tanpa social media sama sekali. Kalau dirasa hidupmu penat guys, bisa nih liburan ke sini.




Menurutku, restaurant yang letaknya di hutan gini, interiornya gak kalah dengan yang di kota. Justru lebih unik dan bikin betah. Fasilitasnya lengkap, ada kursi meja makan dan kursi meja untuk santai. Plus ada TV dan wastafelnya loh.



Sebelum memutuskan untuk istirahat, loh gak malam tahun baruan? mending tidur kaliiii, kan tujuannya mencari ketenangan *halah alasan* aku sama teman-teman yang lain ngopi dan makan malam dulu di Linnea Cottage Restaurant, senangnya disambut dengan penuh ramah tamah. Makanannya juga enak, bincang-bincang malam hingga hampir melewati pagi. So, akhirnya kami mengistrirahatkan diri.






Aku bersama tiga teman blogger perempuan lainnya menempati kamar tipe Family, berisi dua tempat tidur berukuran sedang. Uniknya, tempat tidur kami masing-masing dihiasi dengan kelambu berbentuk seperti topi kerucut. Cantik, berasa sedang bulan madu hihi. Kamar mandinya juga cukup luas, ada toilet duduk dan toilet jongkok, tinggal pilih mau pakai yang mana, plus wastafel juga dong pasti.

Udara yang cukup dingin di daerah Tangkahan membuat kita tidak memerlukan AC lagi sebagai pendingin ruangan, karena air di kamar mandi saja sudah berasa air dari lemari es. Malam berlalu, berarti setahun sudah kami tidur di Linnea Cottage. Paginya, 1 Januari 2018 disambut dengan suara burung yang merdu, pemandangan bukit yang sejuk. Adem dan bikin betah banget pokoknya.



Sebelum berangkat bertarung dengan medan tracking, sarapan dulu di Linnea Cottage Restaurant. Menu nasi goreng yang super WOW, kenapa? karena aku punya nama untuk menu nasi goreng yang dihidangkan kemarin, kuberi ia nama "Nasi Goreng Buncis Rawit" karena cabe rawit dan potongan buncisnya hampir tidak bisa dibedakan guys, racikan nasinya pas banget. Sebagai pecinta nasi goreng, kubahagia menikmati nasi goreng ini. Sambil menikmati pemandangan air mengalir dari Linnea Cottage Restaurant, sarapanku pagi itu terasa begitu berharga. Ingin berlama-lama sarapan namun hati tak kuasa ingin lekas melakukan perjalanan.

Restaurant Linnea Cottage Tangkahan

Jarang banget ada penginapan yang dilengkapi dengan restaurant di wisata alam begini, nah pas semalam kan gelap, jadi gak banyak mengabadikan potret keadaan restaurant. Paginya langsung deh, lihat-lihat "pecicilan" kesana kemari kayak anak kecil ketemu mainan haha. Soalnya seru  sih, nyaman banget. Fasilitasnya lengkap, meja kursi yang terbuat dari rotan ini menambah nuansa pedesaan yang unik.








Tipe Penginapan di Linnea Cottage Tangkahan

Eitss, sebelum melakukan perjalanan, aku dan teman blogger lainnya keliling cottage dulu, mau lihat-lihat tipe kamar lainnya. Siapa tahu next main ke Tangkahan lagi yakan hehe.











Ekspresi lihat ibu-ibu bawa Durian di kepala #abaikan

Merasakan Mata Air Panas di Tangkahan

Tracking dimulai pukul sepuluh, aku dan teman lainnya menyeberang sungai dengan arus yang lumayan deras. sambil berpegangan tangan kami membentuk jembatan berjalan. Jangan keseimbangan agar tidak tergerus arus, padahal ya arusnya gak deras-deras amat ya hehe. Emang cewek kan kadang lebay ya.

Biar safety, ikat sandal dengan tali


CIE SALIM TERCYDUK :P

Suasana liburan tahun baru membuat lokasi ekowisata ramai sekali, bahkan kami melihat ada perempuan yang hanyut terbawa arus, untungnya ada pengunjung yang menyelematkannya. Huh, sedikit trauma dan takut, tapi yang penting tetap hati-hati saja.


Ada jembatan kecil yang terbuat dari bambu, fungsinya untuk menyeberangi air sungai menuju lubang yang berisi mata air panas. Lubangnya kecil saja, tapi ternyata malah jadi objek wisata. Aku menyentuh airnya, lumayan hangat. Bisa berendam, tapi kemungkinan hanya untuk satu orang, soalnya sempit sih. Pengunjung yang ingin menuju sumber air panas dikutip dana Rp 2.000,- perorang. Untungnya kami tidak, kan kami pengunjung istimewa, Makanya nginap di Linnea Cottage saja, biar semua akomodani aman terkendali hihi.


Tour Guidge yang bawain peralatan di dalam plastik :D

Singgah di Air Terjun Pantai Salak, Tangkahan

Perjalanan selanjutnya menuju Air Terjun Pantai Salak. Penasaran kenapa namanya aneh gitu yakan. Sudah air terjun, pantai pula, pakai nama buah salak lagi? ternyata memiliki filosofi yang sesuai deh. Sebelum sampai ke air terjun, terlebih dahulu kita harus melakukan tubbing dengan naik ban yang disusun dengan tali. Ini momen paling asik, soalnya gak pakai speedboat, kita ngikutin arus air yang tenang banget, sesekali ada arus yang lumayan deras sehingga berasa ngarung jeram.




Sekitar dua puluh menit di atas ban dan mengikuti arus sungai yang tenang, sampailah di tepian sungai menuju air terjun. Harus melakukan tracking yang lumayan lah, beberapa teman yang terpeleset karena kurang konsentrasi, kalau aku? kan selalu fokus, apalagi ke kamu #eh




Di Air Terjun Pantai Salak ada beberapa pria, mereka adalah warga yang sepertinya sedang melakukan pembentukan batu menjadi sesuatu yang bisa dijadikan branding air terjun itu sendiri. Aku langsung menanya alasan air terjun tersebut dinamai Air Terjun Pantai Salak.



Sepertinya mau dibentuk seperti Salak :D


Pantai? karena mungkin tempat ini memiliki tepian yang bisa dijadikan tempat bersantai bagi pengunjung. Nah, Salak? karena batu di air terjun ini permukaannya serupa kulit salak. Iya, unik banget. Bergerigi tajam seperti kulit salak, gak buang, mirip banget. Batu-batunya juga lunak, harus hati-hati bila menginjaknya, bisa jadi batu akan rapuh seperti cokelat yang patah, warnanya keabu-abuan, ada yang cokelat juga. Tapi, batu yang berada di air, tidak serapuh batu yang berada di tempat kering. Banyak batu yang licin juga, mungkin karena belum banyak dijamah, so kita harus hati-hati banget.


Mandi di Air Terjun Sungsang, Tangkahan

Air terjun Sungsang termasuk air terjun yang paling diminati jika berkunjung ke Tangkahan, sayangnya saat kami berkunjung, air terjunnya tidak jatuh seutuhnya. Hanya bagian pinggir saja yang lumayan menderas. Hanya soal keberuntungan saja, mungkin di lain hari bisa menikmati indahnya air terjun ini saat airnya jatuh seluruhnya.






Terlihat banyak anak-anak yang melakukan jumping dari atas air terjun, mereka melakukannya dengan sangat lihai. Kedalaman dasar air terjun kemungkinan juga tidak terlalu dalam. Sebagian dari kami ada juga yang melakukan jumping, selebihnya hanya mandi ciprat-ciprat cantik dan mengabadikan momen.

Menunggangi Gajah di Konservasi Gajah Tangkahan


Lokasi Konservasi Gajah Tangkahan tidak jauh dari air terjun, kami melewati jalur darat dengan menaiki mobil sekitar 25 menit, itu juga karena suasana sangat ramai, dihadang kemacetan yang tidak bisa dielakkan.

Sangat disayangkan, gajah-gajah lucu di Tangkahan ini mandi pada sore hari. Sedangkan kami datang menjelasng sore, harusnya bisa ikut memandikan bahkan memberi makan gajah. Akhirnya, cukup menunggangi gajah saja, aku sudah sangat senang. Satu gajah bisa ditunggai tiga orang dewasa, jangan lebih ya, kasihan loh gajahnya. Sadar diri kalau gendut ya haha. Aku dan ketiga temanku berkeliling naik gajah tidak satu putaran, hanya setengah jalan lalu balik lagi. Jangan lama-lama juga, selain tidak baik untuk diri sendiri, juga tidak baik untuk gajah.


Kenapa tidak baik untuk diri sendiri? Nah, saat kita menunggangi gajah, ada pembatas berupa besi yang tidak dilapisi kain. Goncangan saat menaiki gajah akan membuat badan kita sakit dan aku sudah merasakannya sendiri. Seharusnya besi di punggung gajah diberi kain agar penunggang tidak merasakan sakit bila gajah berjalan dan membuat penunggang terguncang.



Oh ya, di Tangkahan kita juga bisa bawa oleh-oleh loh. Karena sudah ada toko yang menyediakan berbagai pernak-pernik khas Tangkahan, juga ada berbagai macam kaos dan sejenisnya.


Macet di Jembatan Penyeberangan Tangkahan

Ada hal yang mengejutkan, kemarin kami tiba di Tangkahan malam hari, jadi jembatan tidak berpenghuni, gelap dan sunyi. Pandangan hanya ke depan karena kita berjalan menggunakan senter, lempang tidak ada kemacetan. Berbeda saat hendak pulang. Kemacetan berasa di kota, jembatan hanya boleh dinaiki maksimal enam orang, ratusan orang yang berkunjung ke Tangkahan hanya memiliki akses jembatan itu. Akhirnya, kami harus mengantri untuk bisa melewati jembatan penyeberangan yang bikin deg-degan kalau dilewati.


Setelah berhasil melewati jembatan, itu artinya liburan sudah usai, kembali ke Medan dan harus menjalani hari-hari rutin sebagai pekerja lagi. Senang sekali, tahun baruku sungguh berfaedah. Pelayanan yang sangat memuaskan tidak membuat liburan malah jadi capek. Pernah kan ngerasa habis liburan malah jadi malesin, badan besakitan? Nah, aku malah gak gitu. Menyambut hari baru malah makin fresh, justru semangat banget nyelesain tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi kalian yang ingin liburan ke Tangkahan tanpa mau ribet dan ingin mengunjugi bermacam tempat wisata di Tangkahan dengan sekali jalan. Asik banget kan kalau sekali menyelam sepuluh pulau terlampaui?

So, aku ngerekomendasiin kalian untuk ningep dan pakai tour guidge dari Linne Cottage. Aku sudah merasakan kenyamanan dan serunya liburan dengan pelayanan yang mengayomi.

Untuk tanya-tanya informasi lebih lanjut langsung cek instagramnya di @linnea_cottage atau hubungi Meidi: 085261865837

Terimakasih Linnea Cottage, see you next trip.  
        

7 comments:

  1. Keren sekali, ini aset wisata yang sangat bagus, jadi ingin sekali kesana,

    ReplyDelete
  2. Ternyata naik gajah tinggi juga ya..

    ReplyDelete
  3. waaah, cantik ya mbak tempat-tempat wisatanya..saya orang medan belum pernah main ke tempat wisata di Langkat..jarang jalan jalan seh hehe

    ReplyDelete
  4. Weeeh... Seru kali..

    Knapa semua penginapan di sana ada kelambunya? Pasti banyak nyamuknya.. Padahal udara disana cenderung sejuk dingin
    ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada nyamuk sama sekali kak, bahkan dingin seperti di berastagi.

      Delete
  5. Uh serunya yah sis maen air gitu, liburan tahun baru semakin menyenangkan bersama teman dengan udara yang segar dan atraksi yang memompa adrenalin.

    ReplyDelete

Follow Me on Instagram @agnesiarezita