Minggu, 31 Desember 2017

# COMPETITION

Berinovasi di Bawah Naungan Rumah Tiram


Tiga belas tahun telah berlalu, sejak gempa dan gelombang tsunami meluluhlantakkan kota yang dikenal sebagai Serambi Mekah. Banda Aceh, akhir tahun 2004 menjadi tahun bersejarah bagi seluruh masyarakat dunia, yang mana di tahun itulah ribuan orang tersapu arus gelombang tsunami, ribuan keluarga terpisah, anak menjadi yatim bahkan piatu dan istri menjadi janda begitupun sebaliknya.

Namun, ada banyak hal yang sepatutnya disyukuri dari berbagai peristiwa yang datang menerjang. Hikmah. Ya, satu kata itulah yang kini kian menguatkan masyarakat Banda Aceh. Kehilangan harta dan keluarga takkan menyurutkan semangat mereka untuk melangsungkan hidup. Meski dengan banyak keterbatasan yang sulit dihindari.

Kini Aceh semakin berbenah, itulah hikmahnya. Kedatanganku ke Banda Aceh membuatku takjub. Aku seperti melihat kota yang terlahir kembali, semua serba baru. Infrastruktur dan wajah-wajah masyarakat kota terlihat sangat sumringah. Aku semakin menyusuri kota ini bukan hanya di inti kota, aku sampai dimana kota ini dikenal dengan mayoritas penduduknya sebagai nelayan. Ya, pesisir pantai.

Aku mendatangi desa Lhok Akok dan Gampong Lamngah, kedua desa ini didominasi oleh nelayan Tiram. Desa ini didominasi oleh para ibu yang ditinggal wafat suaminya. Bekerja susah payah menghidupi keluarga dan beberapa anaknya.

Salah satu anggota kelompok yang sudah lanjut usia di kelompok Lhok Akok

Wajah keriput menandakan usia yang sudah tidak muda, pun kehidupannya. Tapi mereka tetap bersahaja menyambut kedatangan sesiapa yang ingin berkunjung atau sekedar tegur sapa. Di waduk seluas tiga hektar, para ibu bekerja sebagai nelayan tiram. Terik dan petang, mereka lawan bila menantang.
Keadaan waduk menggunakan bambu bekas sebelum menggunakan metode Rumah Tiram

Sebelum tsunami menjadi tamu yang tidak diharapkan, para ibu di pesisir pantai ini sudah lebih dulu menjadi nelayan tiram. Bersama suami, mereka membudidayakan tiram dengan cara yang masih sangat tradisional, yaitu menancapkan bambu ke dasar waduk dengan membentuk lingkaran. Berendam sembari membungkuk meraba mencari tiram di dasar waduk. Tidak dengan penglihatan, hanya dengan perasa. Menerka dengan tangan, dimana letak tiram berada.

Nelayan Tiram mengambil contoh Tiram yang siap panen di dalam keranjang

“Dahulu, saya dan nelayan lainnya berendam di waduk mencari tiram hingga petang. Terkadang kaki terasa perih, tangan juga sering terkena sayatan tajam cangkang tiram.” Sambut nelayan perempuan bersama Halis Manidar, satu dari kelompok nelayan yang menjadi janda sejak ditinggal wafat suaminya pada peristiwa tsunamin 2004 silam. Kutatap matanya yang nanar, seperti mengulang kembali ingatan kejadian menyakitkan yang membuat ia kehilangan suaminya.
Keadaan Nelayan Tiram sebelum menggunakan metode Rumah Tiram

Bila masa panen datang, para nelayan akan berendam di waduk dari pagi hingga petang. Bagi mereka, nafkah adalah tali penyambung hidup. Meski terik, bahkan tersayat tajamnya cangkang tiram, tidak peduli. Asal kebutuhan keluarga terpenuhi.

Dulu, Anak-anak ikut berendam mencari Tiram

Tidak hanya para nelayan, terkadang anak-anak mereka pun ikut membantu membudidaya tiram. Bagaimanalah, mencari tiram di waduk agaknya lebih menyenangkan ketimbang mencari ilmu di sekolah. Berendam berjam-jam di waduk, bermain bersama teman, itulah kesenangan anak-anak pesisir pantai. Masih belum terfikir, kelak apa yang akan terjadi bila ilmu dicapai lebih tinggi. Yang tepenting, hari ini perut akan terisi.

Meski terkadang, tangan dan kaki tersayat cangkang tiram yang tajam, mereka terus saja mencari tiram yang terbenam. Di dasar waduk dan yang menempel di bambu. Memang, mereka tahu kesehatan akan terganggu bila berendam terlalu lama di dalam waduk. Pun kandungan logam yang diambil dari dasar waduk juga tidak baik dikonsumsi.

Dengan cara kerja nelayan tiram yang demikian, salah seorang warga di Banda Aceh, Syardani Muhammad Syarif mempelopori terbentuknya teknologi Rumah Tiram. Awalnya warga tidak mengerti bagaimana cara kerja rumah tiram, mereka cenderung lebih suka melakukan cara kerja yang sudah pernah mereka lakukan, namun mereka tidak tahu dampak buruk yang akan terjadi pada jangka panjang. Maka dari itu, Rumah Tiram dibentuk agar masyarakat desa khususnya nelayan tiram berinovasi pada perkembangan teknologi yang kian pesat.

Keadaan waduk setelah menerapkan metode Rumah Tiram

“Kami ini tidak mengerti, biasanya berendam dan mencari tiram di dasar waduk. Panas-panasan, katanya ada inovasi Rumah Tiram dan kami akan diberi pelatihan. Syukurlah.” Jawabnya ketika aku tanya kebenaran soal Rumah Tiram kepada bu Halis Manidar, tampaknya memang pengetahuan masyarakat pesisir pantai pun masih minim, itulah dibutuhkan inovasi dari orang-orang yang paham akan itu.

Pipa dengan cor beton di dalamnya sebagai penyanggah ban bekas
Ban bekas digunakan untuk Tiram bersarang, ban bekas diikat dan digantungkan di pipa
Keranjang berfungsi sebagai tahap akhir Tiram berkembang hingga siap panen
Perahu digunakan nelayan untuk mengambil tiram dari keranjang agar meminimalisir nelayan berendam di air

Rumah Tiram adalah tempat budidaya tiram yang disebut sebagai rumah, terbuat dari pipa dan dalamnya terdapat cor beton, serta ban mobil bekas sebagai tempat bersarang tiram. Ban mobil bekas digantungkan di pipa dengan cara diikat. Kemudian setelah dua bulan, diharapkan tiram akan berkembang di permukaan ban, kemudian bibit tiram yang tumbuh selama 2 bulan tersebut dipindahkan ke dalam keranjang untuk mengalami pertumbuhan hingga masa panen.

Hasil panen tiram selama 5-6 bulan di dalam keranjang
Tiram yang melekat di ban bekas

Kemudian teknologi Rumah Tiram tersebut diteliti oleh Ichsan Rusydi yang merupakan Staf Pengajar Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala bersama sepuluh mahasiswanya.   

“Kita melihat potensi yang bagus dari budidaya tiram, di luar negeri Tiram itu sangat banyak sekali peminatnya. Harganya pun cukup fantastis, di Indonesia khususnya Aceh sudah sepatutnya mengembangkan budidaya Tiram dengan inovasi Rumah Tiram tersebut. Agar nelayan kita juga berkembang.” Ungkap Ichsan Rusydi sebagai seorang peneliti pengembangan Rumah Tiram.

Para Ibu Nelayan Tiram

Dalam pengembangan teknologi rumah tiram ini, dilakukan metode pengelompokan. Dibentuklah empat kelompok dari para perempuan nelayan tiram. Terbagi di dua daerah, di Banda Aceh terdapat dua kelompok yaitu Kelompok Lhok Akok Desa Tibang yang terdiri dari 9 orang dengan luas lahan 2 hektar. Kemudian selanjutnya kelompok Cot Mee Desa Alue Naga yang terdiri dari 10 orang dengan luas lahan 3 hektar.

Sedangkan di Aceh Besar, juga terdapat dua kelompok yaitu Kelompok Tiram Jaya Bahari Desa Gampong Lamngah yang terdiri dari 19 orang dengan luas lahan 1 hektar dan Kelompok Bina Usaha Tiram Desa Ujong Pancu yang terdiri dari 10 orang dengan luas lahan 5 hektar.

Ichsan dan sepuluh mahasiswanya melakukan observasi dari empat kelompok tersebut. Di desa Alu Naga, para nelayan tiram hanya memanfaatkan pipa beton dan ban bekas sebagai rumah tiram hingga tiram berkembang utuh, tidak dipindahkan ke keranjang seperti di desa lainnya. Selain daripada pipa, cor beton dan keranjang, Ichsan juga berinovasi dengan pembuatan perahu sebagai sarana pengambilan tiram di area waduk. Fungsinya agar para nelayan tidak lagi masuk ke dalam waduk dan mengurangi resiko yang tidak baik bagi kesehatan.  

Para nelayan kian mengerti dan memahami pengaruh Teknologi Rumah Tiram terhadap kesehatan dan pendidikan masyarakat. Para nelayan juga mulai paham bahwa logam berat pada tiram yang terdapat di dasar waduk sangatlah tinggi sehingga tiram tersebut cenderung tidak baik dikonsumsi. Masyarakat sebenarnya memahami kalau berendam di dalam waduk yang berair asin sangat membahayakan kesehatan, namun kini nelayan sudah menemukan inovasi baru dengan penggunaan sampan untuk mengambil tiram.

Perubahan signifikan dirasakan oleh nelayan tiram, khususnya dalam hal penghematan waktu. Bila biasanya nelayan tiram harus merogoh dasar waduk untuk mencari tiram yang belum pasti pertumbuhannya, setelah adanya rumah tiram, nelayan cukup mengangkat ban atau bahkan hanya mengambilnya di dalam keranjang. Sesederhana itu, rumah tiram dibentuk untuk meminimalisir waktu nelayan berendam di dalam air.

Tiram siap panen sebesar telapak tangan orang dewasa

Hasilnya lebih baik dan jernih

Dalam kurun waktu lima hingga enam bulan, tiram akan berkembang berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa, Tiram yang dihasilkan dari inovasi Rumah Tiram cenderung lebih utuh dan lebih banyak menghasilkan bibit baru di setiap cangkangnya, harganya tentu akan lebih mahal dari biasanya.
Bibit Tiram baru yang menempel di cangkang Tiram dan siap dikembangkan kembali

Hasil panen dari inovasi rumah tiraam ini juga jauh lebih baik dari cara tradisional yang dilakukan nelayan sebelumnya. Jika sebelumnya penghasilan penduduk berkisar Rp. 20.000,- hingga Rp. 30.000,- per hari, kini meningkat menjadi Rp. 50.000,- hingga Rp. 80.000,-

“Dari segi penghasilan tentu kami merasa sangat terbantu, karena dulunya kami hanya mampu meraup untung dua puluh ribuan, kini untung setiap harinya  bisa mencapai delapan puluh ribu dan kami tidak harus berendam seharian di dasar waduk. Anak-anak juga tidak lagi ikut membantu, mereka kita suruh belajar baik-baik di sekolah. Akhirnya, kami memiliki waktu lebih banyak untuk mengurus anak di rumah” Jawab bu Halis Manidar sumringah. Aku yang melihat wajah bahagianya menceritakan perjalanan yang signifikan membaik, membuatku jadi ikut merasa bahagia, sedikit mengurangi beban ingatannya pada rasa perihnya kehilangan suami.

Tentu inovasi Rumah Tiram ini menjadikan perekonomian warga lebih meningkat, karena selain nelayan, masyarakat juga berinovasi mengembangkan Tiram menjadi panganan seperti saus tiram, kerupuk dan pupuk. Bahkan yang lebih berkembangnya lagi, kini tiram sudah merambah ke usaha aneka masakan mie tiram dan kuah tiram. Panganan tersebut sudah tersebar di warung-warung makan di Aceh.

“Tidak hanya nelayan yang berkembang, karena setelah nelayan panen, tiram dijual ke masyarakat lain untuk diolah menjadi saus tiram, kerupuk dan panganan lainnya. Hasilnya seperti saus dan kuah tiram sudah dijual di warung-warung makan di kota Banda Aceh.” Tambah Ichsan.

Para nelayan juga semakin menjaga kearifan lokal dengan tidak mengambil tiram yang masih kecil dan tentu membiarkannya tumbuh berkembang. Para nelayan juga semakin menjaga ekosistem waduk, karena waduk tersebut adalah mata pencaharian mereka.


Ichsan Rusydi (tiga dari kiri: batik hijau) Penerima SATU Indonesia Awards 2016

Atas dasar pengembangan yang membantu mensejahterakan nelayan kota Banda Aceh melalui inovasi rumah tiram, Ichsan Rusydi sebagai peneliti sekaligus inovator rumah Rumah Tiram mendapat penghargaan dari PT. Astra International, Tbk kategori kelompok pada Semangat Astra Terpadu untuk Indonesian (SATU Indonesia) Awards 2016 dan dianggap telah mampu melakukan perubahan sekaligus memberikan dampak baik bagi masyarakat terutama nelayan pesisir pantai kota Banda Aceh.

Mewawancari Ichsan Ruysdi di Banda Aceh

Ichsan Rusydi mengaku tidak menyangka bila dirinya mendapat penghargaan tersebut, karena apa yang Ichsan dan sepuluh mahasiswanya lakukan hanya sekedar untuk membantu perekonomian masyarakat menjadi lebih baik.

Peresmian Kampung Berseri Astra sebagai kerja sama dan penghargaan SATU Indonesia Awards 


PT. Astra International, Tbk sangat mengapresiasi inovasi nelayan Aceh untuk terus berkembang bersama teknologi yang kian canggih. Maka dari itu Astra bekerja sama dengan Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah agar masyarakat Aceh kian berinovasi. Dalam hal ini akan bekerjasama dalam tiga bidang, yaitu dari segi Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan.

Penandatangan MOU Kerja Sama dengan PT. Astra International, Tbk
Dari Segi pendidikan, akan dilakukan Pengembangan Senyum Sapa PAUD Astra, kemudian dari segi lingkungan, akan dilakukan pembinaan Kampung Berseri Astra, Penghijauan lingkungan desa dan pelatihan kader lingkungan. Pembuatan tambak terintegrasi ramah lingkungan (ecoshim & oyster) serta Pembuatan Rumah Tiram
Dari segi Kewirausahaan, akan dilakukan Sosialisasi pembentukan kelompok usaha rakyat meliputi Pelatihan aneka olahan tiram dan ikan serta Pembinaan dan pembentukan koperasi rakyat.

“Harapannya, Masyarakat Aceh tidak hanya berinovasi dalam pengembangan Rumah Tiram. Dengan bantuan dan kerjasama bersama Astra, semoga Banda Aceh semakin berinovasi dalam bidang lainnya yang berbasis teknologi dan menjadikan masyarakat Aceh semakin sejahtera.” Tutup Ichsan.


Berjayalah Astra, selama 60 tahun menginspirasi negeri. Nelayan Banda Aceh memang tak lagi muda, tapi semangat dan energi baiknya haruslah serupa Astra, yang perjalanannya menginspirasi seluruh kalangan bangsa. Salam SATU Indonesia.

17 komentar:

  1. Nes, aku masik inget kali lah gempa Aceh yg dulu itu. Sampek merinding pun kalok inget :(

    Tapi alhamdulillah sekarang Aceh uda maju ya, bangunannya pun bagus-bagus. Plus banyak bantuan beasiswa untuk anak-anak sekolahnya. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Aceh sudah semakin berkembang, sejuk dan super ngademin.

      Hapus
  2. Mba, ini ibu2 hebat ya berjuang melanjutkan perjuangan walau sudah ditinggal suaminya karena musibah tsunami. Tetap semangat, keren. Jadi pendapatannya naik ya per hari. Moga program astra semakin berkembang dan manfaat utk masyarakat di sana. Apalagi case yg seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dengan adanya program Astra ini sangat membantu sekali.

      Hapus
  3. dari dulu aku pengen banget ke aceh tapi belum kesampaian. btw ASTRA memang hebat ya dengan CSR nya banyak memberi manfaat untuk Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo segera main ke Aceh, akan banyak kenangan yg takkan terlupakan.

      Hapus
  4. kayaknya enak ya buat dimakan tiramnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temen-temenku pada dimakan langsung loh koh, katanya enak, ada asin-asin gitu. aku sih gak berani hehe

      Hapus
  5. Subhanallah, luar biasa semangat ibu-ibu di Aceh sana ya. Terharu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subahanallah, semoga sehat terus mereka ini mba.

      Hapus
  6. Berkah dan hikmah dari Tsunami, buka mata jika kita ingin melihatnya.

    BalasHapus
  7. Dari dulu pengen banget ke Aceh, adem pasti lihat kota dengan wanita yang berhijab semua.

    BalasHapus
  8. Mirip kerang tapi versi besar ya hehe. Astra memang keren banget, gak nyangka sebesar ini sudah perkembangannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Astra berpengaruh besar banget dalam perkembangan SDM di Indonesia.

      Hapus
  9. Wah hebat yah inovasinya. Semoga para nelayan tiram semakin sejahtera

    BalasHapus