Pelangi Malam Hari

08.56.00

Aku pernah mendapati seorang teman berkata bahwa tak pernah hilang awan di pelataran langit, sekalipun malam. Hanya gelap yang menutupinya, sejatinya ia tetap berada di tahtanya. Begitukah pelangi malam hari? Benarkah warna-warni yang melingkari rembulan saban hari itu kita sebut pelangi? Yang enggan pergi, sekalipun malam menjelang pagi.
Ada sesosok anak manusia di ujung sana, bertemankan secangkir kopi pahit sepahit masa lalunya, juga sebatang dua batang rokok yang entah kapan tak lagi temani ia. Setiap malam begitu, sendu sedan meratapi rembulan, berharap sesosok wajah keluar dari pandangan, tersenyum dengan canda tawa ringan.
Katanya pelangi selalu datang kala hujan reda, lalu mengapa pelangi selalu hadir menimpali cahaya rembulan? Ataukah sebenarnya rembulan tak seteduh itu, ataukah pelangi lah yang berperan penuh memantulkan bias-bias warna-warni penyejuk hati. Oleh karenanya anak manusia itu tak henti menanti senja berangsur pergi tergantikan malam yang sunyi?
Apa yang ia harapkan dari rembulan yang tak kunjung kabarkan apa-apa? Hanya teronggok mati meratapi, tak pernah balas sapa apa yang ia kata. Berjuta cerita terlontar tak jua berbalas kabar. Sesekali bintang juga ikut menyapa, lewat kerlap-kerlipnya yang entah pertanda apa. Baginya kerlip bintang paling terang adalah kabar baik dari rembulan yang mencoba menjawab sapa, namun terendap nadanya di balik bias-bias pelangi yang melingkarinya.
Sekian, selamat malam. Tidurlah tanpa separtikel pun asap kau hisap. Bila tak juga mampu kau pejamkan matamu, teguklah kopi pahitmu, jangan sisakan ampasnya. Agar larut juga ia dalam mimpi-mimpi buruk yang kau ingin selalu ia pergi.


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe