Fikrial Hafiz, Kecil-kecil Suka Nulis

08.51.00

Kalau kita kembali ke masa kecil, pasti kita bisa hafal cita-cita apa yang kita dan teman-teman kita impikan. Mulai dari cita-cinta ingin jadi dokter, polisi, tentara, pilot, guru hingga masinis (ceila masinis :D). Tapi kali ini beda, setelah perkembangan zaman yang kian entah sudah secanggih apa teknologinya, kini bila kita tanyakan pada anak-anak, kian beragam jawabannya.
Seperti yang aku alami saat ini. Ceritanya, aku pernah mengusulkan membuka ekskul wartawan cilik di sekolah tempat aku berkerja, awalnya banyak sekali anak-anak yang berminat. Selang sebulan akhirnya anak-anak lebih tertarik pada ekskul yang terlihat mentereng. Seperti ekskul drum band atau menari, karena ekskul tersebut memerlukan keadaan latihan di lapangan, meriah dengan musik-musik yang mengundang anak-anak yang notabenenya suka dengan sesuatu yang menyenangkan. Beda halnya dengan wartawan cilik yang hanya fokus dulu awal bulan pada teori. Pikirku, awal-awal belajar aku memperkenalkan dulu bagaimana sistematika menjadi wartawan. Salahku, akhirnya mereka jenuh. Dan finnaly, ekskul ini vakum.

Selang beberapa minggu, salah satu orang tua murid mendatangiku, menanyakan perihal mengapa ekskul wartawan cilik vakum. Padahal menurut pengakuan ibu ini, ia senang sekali ada ekskul tersebut, biar lebih mengasah kemampuan anak dalam berpikir dan menulis. Katanya.
Setelah cerita-cerita ini itu, singkat cerita ibu itu ingin anaknya tetap belajar nulis. Pikirku, enggak masalah kalau muridnya hanya satu, asal mau. Toh gak rugi untukku, mengajarkan orang lain menulis malah bisa mengasah kemauan kita untuk juga produktif dalam menulis. Maka dari itu, aku putuskan untuk membuka kembali ekskul tersebut dengan mengganti genrenya dari wartawan cilik menjadi kelas menulis. Karena memang hanya fokus untuk menulis.
Namanya Fikrial Hafiz, kelas tiga SD. Hobi sekali membaca buku, mungkin karena orang tuanya membiasakan Fikri jalan-jalan ke toko buku, membiasakan fikri berimajinasi dalam dunia buku, makanya ia punya hobi membaca yang gak banyak dimiliki oleh anak seusianya. Aku bangga dan senang sekali punya murid ajar seperti Fikri. Anaknya memang pemalu, wajar sih. Tapi dia mudah menangkap apa yang aku ajarkan.
Pertemuan kelas menulis sudah berjalan tiga materi. Yaitu Cerpen, Berita dan Resensi. Pasti kalian mengira aku terlalu aneh memberikan ia materi yang berat di usianya yang masih sangat muda. Tapi jangan salah, materi-materi ini mudah ditangkap Fikri. Mungkin karena memang ia suka membaca, maka pengetahuannya luas. Jadi saat aku memintanya mengerjakan tugas membuat berita, cerpen atau resensi, hanya dengan sedikit pengarahan ia langsung paham.
Ada yang menarik dari pertemuan di kelas menulis ini. Aku sempat bertanya apa cita-cita Fikri, ia menjawab ingin menjadi Penulis, Pelukis dan Pemilik Cafe Coffe. Aku pun mulai menanyakan satu persatu alasan dari tiga cita-citanya. Mulai dari mengapa ia ingin memiliki caffe coffe. Ia melihat bahwa ayahnya suka sekali minum kopi, jadi ia ingin punya cafee coffe sendiri biar ayahnya bisa minum kopi kapanpun ayahnya mau. So, anak laki-laki yang keren bukan? Lalu aku tanyakan apakah ia bisa menggambar sampai ia ingin jadi pelukis, Fikri menjawab iya. Ia menyukai gambar meme Japan. Menurutku suatu saat nanti mungkin Fikti akan tumbuh menjadi komikus dengan cerita-cerita yang fantastis. Yang terakhir sudah jelas mengapa ia ingin jadi penulis, karena ia suka baca, maka ia ingin menulis apapun yang ia ingin tulis. Sunghuh, Fikri memang anak yang pemalu dan pendiam. Tapi dia cepat tanggap dan keren dalam menulis.
Satu yang aku tekankan dari kelas menulis ini. Aku hanya membimbing fikri menulis apa yang ingin dia tulis. Lalu mengajarkan dia menyusun kalimat seperti kalimat apa yang enak dibaca. So, dengan begitu mudah saja mengajarkan ia untuk jadi penulis. Sekalipun aku bukan penulis. Yeaah seeyaaa di cerita selanjutnya gaeess.

You Might Also Like

1 komentar

Subscribe