[Resensi] Novel Burlian, Serial Anak-Anak Mamak Buku-2 Karya Tere Liye

09.06.00

Berani Bermimpi Meski Dengan Keterbatasan Ekonomi


Judul                : Burlian, Serial Anak-Anak Mamak Buku-2
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : IV, Oktober 2011
Tebal               : vi, 342 Halaman
ISBN               : 979979110268-1

Burlian, Si anak Spesial yang Percaya Diri adalah anak kedua dari empat bersaudara. Memiliki dua kakak bernama Eliana dan Pukat serta satu adik bernama Amelia. Di episode selanjutnya saya akan membahas tentang ketiga saudara Burlian ini, setelah saya selesai membaca tiga buku lainnya Eliana, Pukat dan Amelia.
“Kau sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian. Spesial…” (h. 1) Ya, Burlian adalah lelaki kecil kebanggaan Mamaknya, selalu dianggap berbeda dan spesial. Lalu apakah makna berbeda dan spesial tersebut membuat kakak dan adiknya cemburu? Tidak, Mamak dan Bapak selalu mengasihi anak-anaknya dengan adil. Sesuai porsinya, kakak dan adiknya pun memiliki kelebihan tersendiri di mata Mamak dan Bapak mereka.

Di dalam novel dengan 25 episode ini, Tere Liye menceritakan betapa berharganya dunia anak-anak, betapa dunia nakal anak-anak akan menjadi pelajaran tersendiri bagi kehidupan orang dewasa dan betapa masa anak-anaklah yang akan menentukan bagaimana kelak anak itu dewasa.
Burlian, terlahir dari orangtua yang tak tamat Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) membuat Bapak terus menanamkan prinsip pada anak-anaknya betapa pentingnya pendidikan. Untuk mendapatkan biaya sekolah keempat anaknya, Mamak dan Bapak bekerja keras dari pagi hingga petang di kebun demi pendidikan yang dulu tak pernah mereka rasakan hingga tamat. Namun begitu, dunia anak-anak tidak akan mengerti dengan hanya dimarahi atau bahkan diberi teori. Burlian, anak kecil yang nakal, tidak suka sekolah dan hobi bolos. Dan untungya ada Si kecil Amelia yang tinggal di rumah, selalu banyak tanya hingga akhirnya tidak bisa menutup mulutnya untuk tidak mengadukan apa-apa pada Mamak dan Bapaknya tentang yang telah dilihatnya seharian. Dan akhirnya dapatlah di Burlian hukuman yang tak pernah ia duga, dizinkan tidak sekolah dan seharian naik turun hutan untuk mencari kayu bakar. Pelajaran penting, bahwa sekolah lebih mudah ketimbang bekerja seharian penuh seperti Mamak dan Bapaknya. Bukan liburan yang ia dapat, yang ada hanya lelah.
Dalam dunia Burlian si Penggila Buku, ada Pak Guru Bin yang rela mengabdi seumur hidup demi pendidikan anak-anak Sekolah Rakyat di Desa. Pengabdian yang tulus, rela digaji berapa saja atau bahkan tidak dapat gaji sama sekali, asalkan anak-anak dapat mengecap bangku pendidikan, perangai ikhlas tersebut membuatnya sangat dicintai oleh 13 muridnya, termasuk Burlian yang sangat bangga dengan Pak Bin, meski terkadang Burlian bosan mendengarkan kalimat-kalimat motivasi dari Pak Bin, Burlian tetap menyayanginya.
Suatu ketika Sekolah dengan 13 murid itu ambruk, meninggallah dua murid kembar tertimbun reruntuhan dan Burlian ikut ambruk terkena tempias reruntuhan. Dalam kejadian tersebut, Burlian menjadi malaikat bersejarah dalam hidup Pak Bin, di depan banyak media Burlian mengatakan bahwa ia menginginkan Pak Bin diangkat menjadi PNS. Ah, saya terharu sekali bila menceritakan bagian ini. Semua berkat keberanian Burlian. Setelah 15 tahun tidak diterima menjadi PNS karena tidak mampu “menyuap”, akhirnya Pak Bin diangkat menjadi PNS dengan cara terhormat. Burlian, Semua karena cintanya pada Pak Bin, guru kebanggaannya. Dan episode Robohnya Harapan Kami (239) menjadi hikmah berharga bagi Pak Bin
Sifat percaya diri dan ingin tahu Burlian membawanya pada banyak pengalaman baru. Termasuk pengalaman baru mengenal Nakamura-san. Pria parubaya berkebangsaan Tokyo yang datang ke Desa Burlian untuk menyelesaikan proyek pembangunan jalan. Nakamura-san yang selalu memanggil Burlian dengan sebutan Burlian-kun ini telah menganggap Burlian seperti anaknya sendiri. Bagaimana tidak, Nakamura-san memiliki anak perempuan yang seumuran dengan Burlian. Dengan profesinya sebagai Penjelajah Negeri demi sebuah proyek pembangunan, gadis kecilnya itu membencinya, merasa benci sekali dengan keadaan, kenapa harus dipisahkan dengan ayahnya. Jadilah Burlian sebagai teman sejawat yang selalu mendengarkan curhatannya. Aduhai, Burlian yang masih terbilang anak ingusan ini sudah berlagak seperti sebaya dengan Nakamura-san. Itulah, Burlian itu spesial.
Menembus batas terlarang hutan, menjadi tahanan stasiun kereta karena meletakkan paku di rel kereta demi sebuah pisau kecil, merubah teman yang pendiam menjadi pemberani, bermain dengan senapan angin milik Bapak, ah itu semua belum menggambarkan betapa spesialnya Burlian.
Dalam buku bersampul biru dengan ilustrasi anak laki-laki kecil yang disisikan oleh seeokor rusa dan pohon rimbun ini, Tere Liye terlihat ingin menggambarkan bahwa di dalam dunia Burlian, si Spesial ini telah mampu mencuri kepercayaan Mang Unus (Saudara Keluarga Burlian) dalam episode Mengintip Putri Mandi (h. 249) untuk ikut menjaga kelestarian hutan yang telah menjadi pesan leluhur. “Burlian, Pukat, leluhur kita hidup bersisian dengan alam lebih dari ratusan tahun. Maka hidup dari kasih sayang hutan yang memberikan segalanya. Maka sudah sepatutnyalah mereka membalas kebaikan itu dengan menjaga hutan dan seluruh isinya.” Putri Mandi? Itulah Rusa yang digambarkan Mang Unus dalam pelosok hutan yang tiada orang lain mengetahuinya.
Dan pohon rimbun yang bersisian dengan Burlian di cover buku biru ini agaknya merupakan Pohon Bungur Raksasa yang sedari awal diceritakan Mamak dalam episode Hari Dilahirkan (h.1), bahwa sejak Burlian dilahirkan, Burung yang singgah di pohon besar tersebut melenguh menyeramkan sekali.
Buku Best Seller ini juga menjelaskan betapa tidak bermoralnya pemimpin yang membeli suara rakyat demi kusi jabatan. Dan betapa pentingnya memiliki pemimpin meski tidak ada yang pantas. Juga betapa tidak eloknya memperolok calon pemimpin yang buruk tapi yang memperolok tersebut tak mampu mencalonkan diri menjadi pemimpin. “…Kalau kalian benci, kenapa kalian tidak mencalonkan diri? Kenapa kalian tidak menunjuk salah seorang di antara kalian untuk melawannya dalam pemilihan? Itu lebih baik dibandinkan hanya sibuk menggunjingkan..” (h. 234) “… Dan yang lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja…” (h. 237)
Selanjutnya, meski berbatas ekonomi, persahabatan antara Burlian dengan Nakamura-san membawa Burlian merengkuh impiannya melanjutkan sekolah ke Jakarta, Nakamura-san menawarkan diri untuk menyekolahkan Burlian di Kota Jakarta. Hingga akhirnya siapa sangka bahwa pada akhirnya Nakamura-san bertemu dengan Keiko, gadis manis yang dulu selalu diceritakan Nakamura-san padanya. Jodoh itu, tidak harus selalu bertemu saban hari. Burlian saja tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan gadis Tokyo. Mungkin saja jodoh.
Di dalam novel yang tebalnya 342 halaman ini, penikmat novel bukan hanya akan menikmati alur cerita yang akan membuat kita kembali bernostalgia dengan masa kanak-kanak kita. Novel ini juga memberikan beberapa ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Di novel ini meski terdapat banyak bahasa daerah yang tidak dimengerti, namun Tere Liye lihai memberikan penjelasannya lewat footnote (catatan kaki) yang menjelaskan pengertian dari setiap kata daerah yang diletakkan di akhir tulisan per halamannya. Misalnya saja Kopi Luwak, Tere Liye menjelaskan bahwa Kopi Luwak terbuat dari buah kopi yang dimakan Luwak (Musang), lantas kotoran bijinya yang tidak hancur oleh pencernaan Luwak keluar dalam bentuk butiran kopi (masih ada kulit keras buahnya; kotoran Luwak inilah yang diolah menjadi bubuk kopi) (h. 6) siapa sangka kalau ternyata Kopi Luwak yang kata orang merupakan kopi termahal dan berkelas itu memiliki proses yang menjijikkan.
Sungguh, betapapun banyak pujian, tidak mampu saya tuangkan di review saya ini. Tere Liye benar-benar menyentil telinga para orangtua untuk tidak meremehkan masa kanak-kanak. Mengajarkan kesederhanaan dalam hidup tanpa mendikte dan serasa digurui. Mengajarkan pada anak untuk mencintai dan menghargai jerih payah orangtua. Untuk para orangtua dan remaja ataupun siapapun anda, buku ini sangat cocok anda konsumsi. Tidak ada ruginya mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Termasuk pengalaman hidup si Spesial, Burlian.

Peresensi Rezita Agnesia Siregar, Mahasiswa Jurusan Hukum Perdata Keluarga di IAIN Sumatera Utara

You Might Also Like

3 komentar

  1. dek coba liaten templatemu lagi ada yang error tuh ditemplatemu soalnya kamu salah nruh kode css nya yang .comments-content .icon.blog-author itu letakkan di css .comment juga dek digolonganya itu klu masih bngung hbngi fbku aj ya presta setyawan

    BalasHapus
  2. oiya gunakan juga threated comments di template kamu karena template kamu tidak menggunakan threated comments makanya jadi gak muncul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun bingung memperbaikinya, Mas. Saya sudah inbox fb nya Mas. Mohon bantuannya. Terimakasih banyak :)

      Hapus

Subscribe