The Happies Holiday with My Best Friends

05.35.00


Oleh: Rezita Agnesia Siregar
Siapa bilang liburan harus dihabiskan untuk mengunjungi tempat-tempat mewah dan mahal? Yang terpenting adalah suasana bagaimama kita bisa membawa diri kita menjadi lebih bernilai meski liburan di tempat yang sederhana. Libur semester kali ini aku memutuskan untuk melumat habis isi Medan Zoo (apa? Mau makan seluruh binatang yng ada disana? Oh tidak!) bukan untuk memasukkan seluruh isi Medan Zoo ke dalam perut, tapi memasukkannya ke dalam memori otakku yang paling dalam agar liburan seru kali ini akan selalu ku ingat sampai penuaan mengusik hidupku) Ku ambil ponselku dan kulayangkan pesan untuk kedua sahabatku, Irma dan Devy. Dalam pesanku aku menyatakan untuk mengajak mereka liburan ke Medan Zoo minggu ini, singkat cerita sahabat-sahabatku pun bersedia untk liburan ke Medan Zoo.
Minggu pagi, sebelum berangkat aku harus mengerjakan tugas rutinku yaitu membersihkan rumahku serta membereskan seluruhnya tanpa terkecuali. Setelah semua beres tepat pukul 11.00 wib aku pergi ke suatu tempat yang kami janjikan untuk berkumpul. Seperti biasa kami selalu mengandalkan jasa angkutan umum untuk membawa kami ke tempat yang kami inginkan, itu karena hanya Irma yang bisa mengendarai sepeda motor, bagaimana mungkin kami harus bertiga dalam satu sepeda motor, bisa-bisa ban sepeda motornya akan kempes karena ditungangi oleh tiga manusia. tepat di persimpangan lampu merah balai kota, terlihat Devy tengah menunggu kehadiran aku dan Irma, beberapa menit kemudian datanglah Irma, dengan santainya Irma memuji dirinya sendiri "aku tambah tinggi kan teman-teman?" "iya memang, karena pakai highels kan! Huu !". Soray aku dan devy.
Kemudian kami menyetop angkot yang kan membawa kami ke Medan Zoo. Sebelum naik ke angkot tersebut kami memastikan lagi bahwa angkot ini benar menuju Medan Zoo, karena ada istilah menyatakan “malu bertanya sesat di jalan”, jadi daripada tersesat tak ada salahnya bertanya kan. Di perjalanan mendekati Medan Zoo kami menikmati suasana desa yang masih sangat pekat dengan persawahannya, Senangnya bisa liburan bareng sahabat tercinta.
Akhirnya tibalah kami di pintu masuk Medan Zoo, tepat pukul 13.00 wib. sebelum kami membeli tiket, seorang ibu parubaya menawarkan kami untuk membeli kacang kulit miliknya " nak beli kacang nak! Satu bungkus cuma seribu saja, bisa untuk kalian makan dan bisa juga untuk ngasih makan kembaran kalian nak." (waduh,masak kami di bilang mau ngasih makan kembaran, kembaran monyet gitu? Wah wah, tapi bener juga sih, agak mirip memang, tapi si Irma deng yang lebih mirip, haha) namun kami masih enggan membelinya. Kami pun menolak tawaran ibu tersebut.
Kemudian kami membeli tiket masuk seharga Rp 7000 dan sudah termasuk biaya penanggungan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, setelah masuk kami melihat banyak sekali keluarga yang berkunjung, mungkin karena ini hari minggu atau mungkin karena hari terakhir liburan anak sekolah, kami mulai menelusur alur menjelajah isi Medan Zoo sampai akhirnya kami melihat wahana permainan angsa raksasa yang tergenang di atas sungai yang lumayan luas, ada sedikit ragu terbesit, karena takut terjatuh ke sungai dan kami juga belum pernah memainkan wahana ini sebelumnya, namun kelihatannya mudah, sebab kami lihat sekelompok anak kecil sangat menikmati setiap detail dayungan mereka, dan kami berfikir bahwa kami juga pasti bisa, lalu kami pun memesan angsa tersebut dengan tarif Rp 20.000 satu angsa, perlahan Irma mulai menaiki angsa itu dengan ketakutan yang luar biasa begitu juga dengan aku dan Devy, namum Devy terlihat sangat histeris ketika angsa mulai kami dayung ke tengah sungai, kami mulai gelagapan untuk mengatur kendali, ini sangat sulit, tak semudah yang kami bayangkan
Seakan di terjang ombak dahyat, kami terombang-ambing hingga menubruk dinding bukit dipinggir sungai, histeris kami pun makin hebat dan hanya satu hal yang kami inginkan saat iu, cepatlah sampai ke tepian, padahal kami baru berlayar selama 5 menit, namun karna rasa takut yang hebat kami pun menyerah. Sampai pada akhirnya kami pun sampai di tepian dengan perasaan lega dan trauma untuk tidak mencobanya lagi, pengalaman yang hebat, padahal kami kira mendayung angsa raksasa itu mudah, ternyata sulit untuk diungkapkan, untuk menetralisir degup jantung agar tak terlalu tergoncang akibat permainan mencekam tadi, kami berkeliling menikmati uniknya hewan-hewan yang ada di Medan Zoo ini, mulai dari lucunya tingkah orang hutan ketika bermain ayunan sampai tingkah beruang yang berbaur riang dengan sejenisnya di dalam kandang, lalu kami kembali terpacu untuk menghilangkan rasa penasaran kami terhadap gajah yang menjadi incaran banyak orang jika berkunjung ke Medan Zoo, kami memesan tiket seharga Rp 5000 per orang, tak berapa lama menunggu giliran, tibalah kami untuk menunggangi gajah besar ini, bukan hanya aku, Irma dan Devy pun merasa takut bukan kepalang, maka dari itu akulah yang menjadi orang pertama yang menaiki pundak gajah yang lembut menggelikan itu, tak mudah menaikinya, butuh tenaga ekstra, setelah aku dan kedua sahabatku terduduk di badan gajah besar ini, pawang gajah pun mulai mengendalikan gajah jinakannya itu, perlahan gajah mulai membawa kami menelusur lapangan becek berlumpur, tak kalah menakutkan dari mengemudi angsa tadi, kami tak bisa menahan hirteris yang terlampau hebat, sebab tulang punggung gajah ini sangat terasa hingga membuat kami kegelian dan tak bisa menahan gelak tawa yang bercampur dngan takut yang luar biasa, sedari kami memperhatikan pengunjung sebelum kami menunggang gajah ini, hanya kami lah yang histeris dan terlalu heboh, aku pun heran kenapa mereka semua begitu santai menikmati setiap detail langkah gajah yang besar itu, dengan posisi aku duduk di depan, Devy di ditengah dan Irma dibelakang.
Setelah mengelilingi lapangan dengan menunggang gajah, sampailah kami pada tepian tempat pengunjung mengantri, lega sekali rasanya bisa turun dari gajah dngan selamat, detak jantung yang dakdikduk pun masih sangat terasa. Sebelum kami melanjutkan perjalanan seru ini, kami pun singgah di warung untuk makan siang, dan seperti yang kami janjikan, kami bertiga membawa bekal makan siang masing-masing dari rumah, selain menjaga pola makan yng baik membawa bekal juga termasuk penghematan. Setelah selesai makan kami lanjutkan petualangan kami mencari hal yang lebih seru, kami pun tertuju pada sebuah permainam bernama trampolin, kami melihat pengunjung yang tengah melambung bebas ke langit dengan suara histeris yang hebat, penasaran dengan hal itu, kami pun mendatangi petugas dari permainan trampolin ini, ketika kami hendak memesan tiket, petugas mengatakan bahwa permainan ini hanya boleh dinaiki oleh manusia yang berat badannya di bawah 50 kg, sedangkan Irma dan Devy memiliki berat badan diatas 50 kg, tapi tidak dengan aku, karena beratku hanya 47 kg jadi hanya aku yang bisa mencoba permainan bundaran karet ini, aku pun tertawa terpingkal melihat raut wajah Devy dan Irma yang lesu karna tak bisa mencoba melompat tinggi di atas trampolin ini, padahal dengan sering melompat bisa membuat tubuh tinggi, cocok banget buat Irma, karena Irma ingin sekali untuk tinggi seperti aku. senangnya punya tubuh langsing, gemuk itu kan menyebalkan. Lalu aku pun mengeluarkan kocek sebesar Rp 5000, aku pun menunggu giliranku untuk naik ke atas bundaran karet itu, setelah beberapa saat menunggu tibalah giliranku untuk naik, jantungku berdegup, aku agak takut, namun Irma dan Devy terus mensuportku dari bawah bahwa aku pasti bisa, dengan berbekal semangat dari sahabatku, petugas trampolin mulai memasangkan berbagai tali pengaman di tubuhku, lalu aku pun perlahan melompat untuk pemanasan, setelah pemanasan seketika jantungku serasa mau copot, aku melambung jauh ke awan, jantungku tak henti berdegup sehebat-hebatnya. Aku serasa burung yang terbang
Bebas di langit, aku tak hentinya menjerit sedangkan Irma dan Devy mentertawakan jeritku, tak beberapa lama melompat-lompat di atas bundaran karet, aku pun melompat perlahan untuk menenangkan jantung yang berdegup cepat, lalu aku terduduk di bundaran karet itu, aku tak punya tenaga lagi, rasanya mau pingsan, tapi Irma dan Devy mensuportku lagi untuk tetap bertahan, karena pengalaman seru belum berhenti di trampolin ini.
Setelah itu kami kembali menyusuri jalan menikmati pelataran hijau yang mengelilingi kebun binatang ini, indahnya. Lagi-lagi kami melihat permainan seru yang menguji adrenalin, yaitu flying fox, kalau permainan ini pasti tidak melihat berat badan pengunjungnya, tanpa pikir panjang kami langsung menghampi petuganya, wah, aku terkesima, kulihat dari atas dimana tepat di dasar kami akan meluncur ke seberang, kulihat di bawah tali ada sungai yang curam, dan ternyata sungai itu adalah tempat dimana kami mengemudikan angsa raksasa yang meyeramkan tadi. Air yang berwarna cokelat itu membuatku terus membayangkan betapa menyeramkan permainan angsa yang kami naiki di awal tadi, bagaimana pula jika kami meluncur di atasnya, kami terus menepis ketakutan kami demi sebuh pengalaman seru yang takkan terlupakan. Karena muatan jaring tempat kami untuk duduk hanya tersedia untuk dua orang, maka aku dan Devy yang lebih dulu untuk meluncur, dan Irma akan meluncur sendirian, dengan raut sedihnya ha menunggu giliran untuk meluncur bersama tali di atas sungar berwarna cokelat menyeramkan itu. Petugas mulai memasangkan tali pengaman di pinggang aku dan Devy, kami duduk di atas jaring tali, setelah posisi duduk sudah nyaman petugas pun meluncurkan kami, wuushh, huuu . . Jerit aku dan Devy bergema, plong banget rasanya menjerit sekuat-kuatnya seakan semua beban pikiran terbang bersama jeritanku, meluncur jauh dengan jerit tak henti kami pun sampai di ujung tepian dan kami akan melihat bagaimana ekspresi Irma yang akan meluncur sendirian. Setelah sampai di pertengahan tali, ku dapati wajah Irma yang panik bukan kepalang.
Dari tepian aku dan Devy pun tertawa tak tertahankan, wajah Irma sangat lucu jika tengah dilanda kepanikan, setibanya di tepian, Irma masih saja panik dengan suaranya yang terbata. Bersyukur banget bisa meluncur dengan selamat. Pengalaman yang menyenangkan. Lalu kami pun berlalu dari permainan flying fox itu, dan melaju lagi menyusuri kebun binatang ini, tiba-tiba kami ingin mecoba permainan kincir angin, namun karena Irma merasa kelelahan, jadi hanya aku dan Devy yang naik ke dalam gerbong persegi yang tergantung di kincir angin ini, dengan membayar Rp 3500 kami perlahan berputar layaknya kincir angin yang tengah berputar. Permainan ini tak begitu menakutkan. Karena kami hanya duduk manis di dalam gerbong dan putarannya juga tak terlalu kuat.
Hari kelihatannya sudah terlalu sore, sebelum pulang kami membeli kenang-kenangan sebuah gantungan mainan untuk hiasan handphone berbentuk boneka dholpin dilengkapi dengan nama kami masing-masing. Selain membawa pulang sebuah gantungan handpone yang lucu, kami juga membawa pulang sejuta pengalaman seru yang akan di ceritakan ke seluruh dunia. Bahwa liburan semesterku sangat berkesan dan super seru. Senangnya liburan seru bersama sahabat tercinta.


You Might Also Like

1 komentar

  1. The Best Travel Agent Medan - #LegallyRegistered
    ENJOY HOLIDAY MEDAN TOUR AND TRAVEL
    Mobile/WhatsApp/Line/Wechat : +62852 7012 6984
    Email : [email protected]
    Office Telp : +626180019762
    Pin BBM : 75889E08

    Click Us!
    Website : www.enjoyholidaymedan.com
    Blogsite: http://discover-medan.blogspot.com

    BalasHapus

Subscribe