PULAU SALAH NAMA, SERPIHAN SURGA DI SELAT MALAKA

00.56.00



di tepian Danau Lau Kawar terdapat ikan-ikan kecil yang mengundang rasa penasaran wisatawan
Hallo GoodNeys. Eaak sekarang udah punya panggilan untuk pembaca. Hihi aransemen dari kata Goodness yang diplesetin ke namaku Ney dan penambahan S, yang bisa jadi pembacanya lebih dari satu meski kenyataannya mungkin tidak ada. Hmm. Aku mau cerita perjalanan jauh nih, tapi gak pake helm. Tepatnya di Pulau Salah Nama.



Bercerita tentang pantai dan pulau memang tidak akan ada habisnya, pemandangan dengan air biru membentang, perbukitan sebagai pelengkap keindahan, arakan awan menambah pesona kian menawan. Ah, Indonesia sungguh wadah pantai yang luar biasa.

Seperti Pulau Salah Nama, namanya yang unik, ditambah pesona alamnya yang sulit diungkapkan kata-kata, kini kian populer menghiasi lini sosial media, orang-orang yang penasaran mulai menyambangi keberadaannya yang masih sangat asri.

Pulau Salah Nama atau lebih akrab disebut Salah Namo ini bertempat di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Menurut Wikipedia Pulau Salah Nama adalah sebuah pulau kecil di Selat Malaka, lepas pantai Sumatera, sekitar 40 Km dari Tanjung Balai dan 10 km dari selatan Pulau Pandang. Pulau tersebut memiliki panjang sekitar 500 m dan lebar 250 m.

Beberapa minggu lalu saya berkesempatan merasakan liburan dadakan yang tanpa perencanaan sama sekali. Jadi untuk kamu yang ingin melakukan perjalanan jauh sebaiknya persiapkan dengan matang. Termasuk financial dan restu orang tua. haha

Transportasi dan Akses Lokasi menuju Pulau Salah Nama

Perjalanan  dari Medan ke Batu Bara menggunakan Bus Sartika sekitar pukul 18.00 WIB, biaya transportasi Rp 35.000,- per orang. Sebenarnya aku sudah menunggu sejak pukul 15.00 WIB. Bayangkan deh menunggu rombongan sampai jam enam sore. Ya begitu deh Indonesia. Kamu jangan gitu ya!
Transportasi Bus Sartika Group
Bus dengan kapasitas 20 orang ini melaju membelah angin, tepat saat matahari tumbang di ufuk barat. Langit jingga menemani perjalanan kami senja kala itu. Tapi yang namanya perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Karena kami berangkat saat malam minggu, akhirnya kami terjebak macet sekitar sejam yang akhirnya membuat kami tiba di Batu Bara sekitar 23.00 WIB. Sekitar lima jam perjalanan dari Medan dengan singgah di rumah makan dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Tour Travel Menuju Pulau Salah Nama

Jika kamu ingin berangkat dengan kapasitas orang yang sedikit, atau hanya ingin honey moon *eaaak* atau tidak ingin repot mengumpulkan banyak orang untuk bisa menyewa kapal menuju Pulau Salah Nama, kamu cukup gunakan jasa Tour Travel yang sudah terpercaya di Sumatera Utara.

Nih aku rekomendasikan Tour Travel Pariwisata Sumut di sana sudah terssedia paket liburan yang kamu butuhkan. Yuk cuuus lanjuuut >>

Malam yang kian larut ditemani hujan yang kian kalut, tanpa memilih siapa yang hendak diguyurnya semua nyawa menggigil dibuatnya. Bus yang kami tumpangi memang tidak ber-AC tapi udara sedingin AC jadi terasa menusuk tulang karena tempias hujan dari balik jendela tak terelakkan.

Setibanya di Batu Bara, kami menginap di rumah salah satu kerabat yang rumahnya tidak jauh dari pelabuhan. Untungnya menginap di rumah teman itu adalah… apa? Ya, penginapan gratis. Kan lumayan gratisan yeaay.. ditambah lagi santap makan malam yang lezat (bagi mereka) kenapa? Iya, Makanannya kerang. I don’t like it. Maaf, soalnya alergi. Kan gak lucu di rumah orang gatal-gatalnya kumat.
Ini namanya kerang. Tahu? Ini kerang, Bukan Tahu -___-
Nah, karena bukan malam lagi. Sudah masuk pukul 12 teng. Artinya sudah pagi. Akhirnya kami harus memaksa mata untuk tidur meski mulut masih ingin kombur (read: gossip) wajar kan namanya cewek, kalau cowok suka kombur baru deh dipertanyakan.

Paginya, suasana di pedesaan sungguh sangat lekat terasa. Suara ayam berkokok, terik matahari yang menyilaukan pada-padi. Sungguh pagi yang menyenangkan, tidak seperti pagi di kota yang lekat dengan kemacetan. Seusai sarapan pagi yang dimasakin oleh wanita-wanita tangguh pecinta dapur, kami bergegas menuju pelabuhan, ya arena kami didominasi manusia yang banyak dan jarak tempuh yang tidak dekat dan tidak pula jauh, kami harus menaiki mobil pick up. Jangan bayangkan kami adalah sapi, kami manusia yang niat liburan. Haha
Transportasi menuju pelabuhan
Perjalanan bertaruh nyawa dimulai. Awalnya sepanjang mata melihat hanya akan mendapati rumah-rumah kayu milik warga di tepian pelabuhan, air keruh nan cokelat, jauh dari kata indah. Meski begitu pun kami tetap selfie-selfie. Iya kan mengabadikan momen. Tapi TIPS nih ya, kalau melakukan perjalanan jauh jangan terlalu banyak selfie di awal mula perjalanan, ntar kalau batre kamera atau batre gadget habis kan jadinya momen penting di tujuan utama malah tak terabadikan. Nah loh,, powerbank kan fungsinya gak lama. Ya intinya selfie seperlunya deh ya.
Namanya juga hobi selfie yakan. Abang ini belum siap udah take aja :v

Biaya Akomodasi Kapal Menuju Pulau Salah Nama

Kami menaiki kapal bermotor muatan sekitar 40 orang, dan kami hanya 15 orang, dengan biaya transportasi pergi dan pulang Rp 1.200.000. nah untuk kamu yang ingin melakukan perjalanan ke Pulau Salah Nama, aku saranin untuk ngumpulin tim yang banyak sesuai kapasitas kapal, agar biayanya bisa patungan, jadi per orangnya bisa lebih murah ya GoodNeys.

Kapal bermotor menuju Pulau Salah Nama
Pelabuhan Tanjung Tiram
Setiap orang pasti punya kebiasaan yang berbeda-beda ya, ada yang phobia ketinggian, mabok perjalanan, ada pula phobia plus mabok Mantan. Kayak rombonganku nih, meski sudah minum obat mabok laut, tetap saja muntah tak henti-henti. Kan sayang banget perjalanan yang harusnya menyenangkan malah jadi gak ngenakin karena mual-mual terus. Untungnya aku tidak dong, I’m strong, Jadi buat kamu yang mabok perjalanan meski sudah beberapa kali minum obat mabok, ya gak apa sih dinikmati aja perjalanannya. Masa gara-gara mabok perjalanan kamu jadi takut naik kapal, atau jadi takut ketemu mantan. Hmmm..
Ceilaa, mual-mual awak iyah. Padahal belum jauh dari pelabuhan :D
Jarang jumpa, jadi momen apa aja langsung jepret
Pasca muntah haha. Abaikan awak kapal itu!
Perjalanan yang menyita waktu hampir lima jam tersebut, membawa kami di tepi pulau Salah Nama. Akhirnya kami melewati warna air yang cokelat dan berubah jadi hijau toska. Subhanallah, luar biasa. Gelombang yang hebat, angin yang kencang, membuat dermaga berdebam sangat kencang.

Setibanya di Pulau Salah Nama, kita tidak perlu khawatir mengeluarkan dana lagi alias GRATIS, karena biaya naik kapal sudah termasuk untuk biaya masuk Pulau Salah Nama loh.

Sekitar pukul 12 siang, pasang air sudah mulai terasa, terlihat dari jembatan yang mulai terkena tempiasan air gelombang yang tinggi. Bahkan jembatan yang dipijaki pun akan terasa bergetar bila gelombangnya menjalar.  
Dermaga Pulau Salah Nama
Tepi pantai Pulau Salah Nama

Asal Usul Nama Pulau Salah Nama dan Keunikannya

Banyak sekali para pendatang yang penasaran mengapa nama pulau tersebut dinamai dengan Pulau Salah Nama. Emangnya apa yang salah? Iya, ternyata ada yang salah dan tidak pantas untuk disebuti namanya. Nah uniknya, menurut warga setempat dulunya Pulau ini memiliki nama yang sama dengan alat kelamin wanita. Mengapa? Karena bentuk pulau Salah Nama jika ditelisik dari ketinggian memang terlihat seperti kemaluan wanita, seperti Klitoris. Kalian tahu bagaimana bentuknya. Maka dari itulah, warga sepakat menyebutnya Salah Nama. Cek di sini.
Pulau Salah Nama dari ketinggian udara. Sumber: TribunNews.com

Fasilitas di Pulau Salah Nama

Meski Pulau Salah Nama ini terkesan seperti pulau yang belum terjamah karena keindahannya yang masih sangat asri. Belum terkontaminasi tangan-tangan jahil. Ternyata pengelola pulau sudah sangat welcome terhadap pendatang, dengan disediakannya Mushola untuk pengunjung menunaikan ibadah sholat, saya sangat terkesan dengan keberadaan mushola yang terbuat dari kayu antic tersebut, terlihat seperti rumah pohon yang kokoh.
Fasilitas Mushola yang bersih
Bangunan kayu yang kokoh
Tersedia juga pondok-pondok untuk pengunjung bersantap melepas lelah sembari menikmati keindahan lautan yang syahdu, ombak yang riak dan angin yang tak henti menarik ulur ombak mencumbu pantai. Dan yang lebih penting, di pulau ini juga sudah tersedia penginapan untuk pengunjung yang ingin lebih lama menikmati keindahan pulau, atau sekedar berburu sunrise ataupun sunset saat petang datang.
Jembatan batu yang mengitari Pulau Salah Nama
Bukan Prewedd :D
Pulau Salah Nama sedikit berbeda dengan Pulau Pandang yang lebih luas dengan hamparan pantai yang asyik untuk bermain-main pasir. Pulau Salah Nama masih identik dengan bebatuan, terdapat jembatan-jembatan batu yang dihiasi pot keramik antik sepanjang jalan. Tepian pantai hanya sedikit, itupun hanya bisa dinikmati saat siang hari, karena bila sudah datang sore hari, air pasang akan menenggelamkannya. 

Disarankan bila tidak berniat untuk menginap, maka harus meninggalkan pulau sekitar pukul empat sore. Karena bila semakin sore, air akan semakin pasang dan kapal sangat sulit beroperasi.
Pulau Pandang dari kejauhan












Pengalaman Menakutkan

Jika di Pulau Pandang pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas mercusuar, nah di Pulau Salah Nama bisa menikmati pemandangan lautan yang terhampar luas dari atas bukit dengan sedikit menaiki puncak sekitar 20 menit untuk bisa sampai di puncak. Pemandangan Pulau Pandang juga akan terlihat dari puncak tersebut, yang pasti kita tidak akan berhenti mengucap syukur. Bahkan rasanya tidak ingin pulang.
Air pasang mulai menenggelamkan jembatan batu
Tapi ada satu hal yang akan selalu membuat kita ingin pulang. Apa? Saat alam tidak bersahabat. Seperti yang kami alami kemarin. Masih sekitaran pukul empat sore, air laut sudah pasang, angin kencang menghadang. Dermaga berdebam terhempas ombak, kaki yang menginjakkan dermaga serasa dihantam keras. Kapal besar yang kami tumpangi tak kuasa menepikan badannya. Hingga akhirnya kami harus ditransfer dengan perahu kecil yang goncangannya luar biasa. Aku yang cengeng ini mana bisa mengelak untuk tidak menangis. Terlebih saat topi pantaiku terbang terbawa angin, “Aku ingin pulang memeluk Mama.” Itu yang aku ucap berulang-ulang saat Lelakiku menenangkanku.
Beberapa menit sebelum topiku terbang. He said: Jangan Nangis, Ya. Nanti kita beli lagi. Kemudian makin nangis..
Begini ombak mengombang-ambingkan kapal.

Sampai akhirnya terdengar celoteh penjaga pulau:
Penjaga Pulau: Saat di Laut, kau hanya punya 50 % Nyawa. Jangan harap selamat 100 %
Kemanapun pergi, jangan lupa Selfie. Salam Pejuang LDR -__-

Tapi meski begitu, suatu hari nanti aku harus kembali lagi ke tempat itu dan merasakan bagaimana alam bersahabat hingga petang. Kalian juga punya pengalaman menakutkan di laut?


You Might Also Like

51 komentar

  1. Sayang banget gak ada fotonyaaaa :(

    Apa semacam Pulau Berhala gitu, Nes? Mirip mirip lah ya. Namanya jugak pulau. ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaampun beb udah nongol duluan ajayeee. belum selesai loh ini, masih mau masukin foto eh terupload. haha

      Hapus
    2. Wkwkwk. Maapkan. :v

      Huaaaaa.. Cantek kaliiii si Salah Nama iniiii. Pulang ke Medan mampir lah awak ke sana! :'D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Abang fokusnya ke abang-abang ya. Bahaya ini :D

      Hapus
  3. Balasan
    1. Yoklah, pake action cam baruuu hahah

      Hapus
  4. Wisatanya seru, pemandangannya ciamik, ada si abang pulak lagi. Komplit liburannya ya, Nes. Hahahaha :D.

    mollyta(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak komplit-komplit amat kak, kan ada tragedi menakutkannya :)

      Hapus
  5. Ngeri kali uwak2 penjaga pantai itu ngomongnya.. T_T jd takut mo ke pulau..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, apa gak makin nanges awak dibuatnya. Siap dia ngomong langsung ombak menghantam wuihh :(

      Hapus
  6. gapapa ga dimakan kerangnya, yang penting tetap dipoto xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw, Food Blogger ini fokus ke makanan ajayaa :D haha

      Hapus
  7. Errr... omongan penjaga pulaunya nyeremin juga ya mbak :D tapi overall :D kereeen jugaaa ah :3 hihihi

    BalasHapus
  8. Huaaaaaa... Subhanallah banget pulaunya. Semoga bisa dikasih kesempatan berkunjung ke pulau tersebut, bareng pasangan juga Hahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Semoga dikasih kesempatan ya. apalagi bareng pasangan :)

      Hapus
  9. Saat di atas laut kita hanya punya 50% nyawa. Menyeramkan, tapi bener sih kata-kata itu. Saya sebagai rakyat Indonesia sebenarnya merasa malu karena masih banyak tempat indah di Indonesia yg belum pernah saya kunjungi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Minimal kita eksplore pulau tempat kita tinggal dulu deh hehe sebelum keliling Indonesia :)

      Hapus
  10. Penuh perjuangan ya untuk ke pulau ini, semoga esok hari nanti saya bisa ke pulau ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, perjuangan antara hidup dan mati :D

      Hapus
  11. indah banget pemandangannya, saya gatau deh naik perahu seperti itu kayanya kurang berani karena takut tenggelam, gabisa berenang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya setiap penumpang disediakan pelampung ya Mbak hehe. Tapi mungkin ada sih di bagasi kapalnya.

      Hapus
  12. wuss cakep cakep bener fotonya..pemandangannya indah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sumatera punya banyak tempat wisata yang luar biasa. hehe

      Hapus
  13. Sumatera punya banyak tempat wisata yang luar biasa. hehe

    BalasHapus
  14. Subhanallah, pulau salah nama ini indah sekali ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Subhanallah indah ciptaan-Nya. Berkunjung dong, hehe

      Hapus
  15. Haii..mbak salam kenal ya.
    Saya suka foto pulau pandang yang dari kejauhan, cantiik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, Terimakasih :)

      Hapus
  16. Haii..mbak salam kenal ya.
    Saya suka foto pulau pandang yang dari kejauhan, cantiik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, Terimakasih :)

      Hapus
  17. Penjaga Pulau: Saat di Laut, kau hanya punya 50 % Nyawa. Jangan harap selamat 100 %

    Ini kaya lagi adu nyali. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyali antara hidup dan mati haha.

      Hapus
  18. mandi2 dung, kok aku baru tau ya nama pulau ini, salah namo, haha, kayaknya menang aku yg ga hobi jalan deh haha. ga ada free pasirr putih menyusur gitu? buat berlarian dan tiduran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mau pasirnya ambil ke rumah haha

      Hapus
    2. ya udah ntar aku ke rumah sekalian nebeng makan yak :D, makan malam gitu :p

      Hapus
    3. Wkwkw Bawak keluarga yaa *eh

      Hapus
  19. Sebenarnya saya menyukai sekali mbak liburan yang menantang tapi yang saya sayangkan keluarga saya ada yang gak mau kalau harus ada resiko apabila liburan jadi kayaknya tidak memungkinkan untuk saya datang kesana dengan keluarga dan kayaknya harus ngajak temen kalau gini mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya keluarga kita sepemikiran, itulah mengapa saya juga tidak pergi ke sini bareng keluarga. Resikonya gede hihi

      Hapus
  20. Wah, pasangan yang serasi hihi. saya tertarik sama bangunan rumahnya mba. trdisional sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu Musholah bang bukan rumah -___-

      Hapus
  21. Kalo pulang kampung ke Medan aku pokoknya mau kesini. Walopun salah nama tapi pemandangannya nggak pernah salah dimata aku #halah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakak harus punya geng dulu haha, atau pake tour travel. huhu karena gabisa perorangan :)

      Hapus
  22. Cieee Romantis nih ya...

    Beneran sumpah keren banget pulaunya...*langsung masuk agenda trip ini mah... jos deh pokoknya...

    aku turut bahagia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama belom nikah aku mah gak bangga dibilang romantis. uhuuukk

      Hapus
  23. Wah nama pantainya lucu juga ta mbak..
    kok bisa gitu.. hHahaha..
    Ohh ya.. salam kenal ya..
    Mampir ke Blog aku juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya karena bentuknya yang begitu,, jdi supaya gak salah sebut jadi salahnama

      Hapus

Subscribe