Liburan Terakhir Mahasiswa Semester Akhir

13.17.00

Ingatlah hari ini
Akhirnya, sampailah aku di masa-masa menjadi mahasiswa semester akhir yang kini resmi menjadi “pengacara” alias pengangguran banyak acara. Setelah mata kuliah di semester tujuh selesai, bukan berarti bisa santai, justru malah setelah mata kuliah sudah habis begini, aku dan teman-teman sejawat lainnya harus lebih fokus pada skripsi.
Menunggu di depan UIN SU
Sebelum nantinya aku dan teman-teman di jurusan Ahwal Syakhsiyah atau Hukum Perdata Keluarga-B di UIN Sumatera Utara bakal sibuk-sibuknya dengan skripsi dan pastinya sudah bakal tidak ada waktu untuk kumpul bersama lagi, maka kami memutuskan untuk liburan terakhir. Meski kami berharap ini bukanlah liburan yang terakhir.
Kumpul di Rumah Tikka
Setelah selesai mengikuti ujian semester akhir, hari sabtu tanggal 10 Januari 2015 kami memutuskan untuk menghabiskan uang kas dengan cara bakar-bakar ayam dan ikan. Kami memilih lokasi liburan di Pantai Putra Deli, sekalipun hanya pantai sederhana, yang terpenting adalah suasana ngumpulnya.
Perjalanan menuju Pantai Putra Deli
Lokasi Pantai Putra Deli kebetulan tidak jauh dari rumah Tikka. Karena itu, sebelum menuju ke pantai, kami berkumpul di depan kampus, sembari menunggu carteran kereta (baca: Sepeda Motor), karena kami kekurangan kereta, maka harus menyewa satu kereta lagi agar semua teman-teman bisa ikut. Setelah kereta yang ditunggu-tunggu datang beberapa jam setelah menunggu, akhirnya kami bergegas menuju rumah Tikka sekitar pukul sepuluh pagi. Padahal janjinya pukul delapan.
Melewati pelabuhan nelayan
          Kami berangkat dengan kereta masing-masing ditumpangi dua orang, sekitar ada 15 kereta. Bayangkan saja dengan 15 kereta lebih kami berangkat beriringan, sudah seperti mau konvoi saja. Dalam perjalanan liburan kali ini, ada satu hal yang sangat aku sesalkan. Kenapa bisa pula kami tersesat menuju Pantai Putra Deli, padahal aku hampir berkali-kali berkunjung ke sana, dan dalam perjalanan ini hanya aku yang berstatus asli orang Medan, lainnya adalah anak perantauan. Haha betapa bodohnya.
Pintu masuk pantai Putra Deli
Maka setelah menelusuri jalan yang jauh, musing-musing tak menentu, akhirnya kami bertanya pada anak sekolah yang tengah melintas, sampai akhirnya kami tahu bahwa kami jalannya keterusan, padahal seharusnya kami belok haha, gara-gara ngikuti jejak Rahman nih.
Tiket masuk Pantai Putra Deli
Dan akhirnya, setelah terbakar terik matahari, kami sampai di rumah Tikka. Namun perjalanan belum sampai di situ, kami harus menempuh Pantai Putra Deli dari rumah Tikka sekitar tiga puluh menit. Setibanya di pintu gerbang pantai, kami membayar tiket masuk dengan harga Rp 5000/kereta.
Suasana Pantai Putra Deli
Suasana pantai tidak seramai seperti saat terakhir aku liburan ke sini beberapa waktu lalu, airnya juga tidak terlalu buruk. Untuk sampai ke tepi pantai dengan pasir putih yang bersih, kami harus menempuh jembatan yang harus punya pertahanan jantung yang lebih baik untuk melewatinya. Dengan susunan kayu yang mungkin akan patah kalau dilewati dengan berlari ini, kami melaluinya dengan sangat hati-hati.
Aku di jembatan
Lama tak selfie bertiga
Ternyata ada hal yang sangat simple namun jadi rumit urusannya kalau dilupakan. Acara bakar-bakar tanpa panggangan. Yah, itulah yang terjadi pada liburan kali ini. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, kami membakar ikan dengan bantuan kayu-kayu yang dililit dengan batang muda rerumputan, wah luar biasa sekali. Dan ternyata dengan tidak adanya panggangan tersebut tidak menjadikan kami putus asa untuk menikmati masa-masa terakhir liburan di semester akhir ini.

Bakar-bakar nih
Bakar-bakar tak pakai panggangan
Dan setelah selesai membakar-bakar ayam dan ikan, kami dengan leluasa menikmati santapan lezat tersebut. Di bawah pepohonan rindang bersama semilir angin pantai yang sepoi-sepoi, ayam dan ikan habis terlahab. Aaaahh setelah kenyang, masuklah ke sesi dimana menikmati air pantai. Aku sebenarnya tidak niat untuk berenang, tapi iseng orang ini menarik semua teman-teman di pantai. Aku yang sedang asik motret saja kena imbas. Alhasil basah semua baju, celana pakai koyak pula. Mana gak bawa baju ganti lagi. Asem kali orang ini haaa. Untungnya Tikka berbaik hati meminjamkan baju full set.
Sebelum diceburin
Setelah diceburin
Aku bahkan tak pernah menghayalkan bakal seperti ini, aku hanya membayangkan liburan kali ini aku ikut andil dalam suasana bakar-bakar, lalu motret panorama atau bahkan menikmati suasana semilir pantai favoritku. Ini lain hal yang terjadi, aku yang awalnya kesal diceburkan ke pantai, akhirnya malah menikmatinya. Bersama semua teman-teman yang basah kuyup karena ulah jahil mereka, kami bermain bola air dengan formasi lingkaran. Aku sangat menikmati, sungguh aku tidak pernah sedekat ini dengan mereka. Dan yang aku sesalkan kenapa di akhir-akhir pertemuan begini, aku baru merasakan kebersamaan ini.
Bermain bola di air
Sampai akhirnya, matahari mulai tergelincir. Langit mulai mendung, awan mulai menghitam, angin mulai tidak bersahabat, kami memutuskan untuk pulang. Masalah sesat tersesat ternyata belum selesai, beberapa teman lainnya lagi-lagi tersesat saat perjalanan menuju rumah Tikka. Dalam keadaan langit sudah mulai gelap, azan maghrib juga sudah berkumandang, burung-burung yang hinggap di pepohonan mulai berterbangan karena tahu petir akan menggelegar. Tapi tidak berlangsung lama, akhirnya teman lain bisa menemukan keberadaan mereka.
Single banget haha
Malam datang, suasana pedesaan di rumah Tikka memperlihatkan betapa gelapnya kota lubuk pakam saat malam. Langit hitam sore tadi menunjukkan titik terang bahwa malam akan turun hujan, Sampai pada akhirnya, rintik hujan mendebam deras keatap-atap rumah, angin malam semakin menusuk kulit. seusai makan malam dan beres-beres, kami memutuskan pulang setelah hujan reda. Menembus dinginnya malam, lima belas kereta lebih menerjang malam dan membelah angin. Dan ternyata hujan tidak benar-benar berhenti, di tengah perjalanan meninggalkan Lubuk Pakam, hujan kembali datang. Dan membawa kami semua kembali tersesat. Selalu begitu, dingin membuat badan semakin menggigil, namun kebersamaan ini membuat malam ini tetap hangat. Dengan bertanya-tanya dengan banyak orang, akhirnya kami bisa keluar kota Lubuk Pakam dan sampai di kota Medan.
Siluet apantai Putra Deli
Aku sampai di rumah sekitar pukul 21.00 WIB. Sekalipun tubuh basah akan hujan, dingin membekukan badan, aku tetap lelap dengan kehangatan. Berakhirnya liburan terakhir di semester akhir  ini semoga membuat aku dan teman-teman lainnya semakin semangat menyelesaikan skripsi dan mencapai target wisuda bulan Mei. Semoga. Sampai jumpa di Mei 2015 dengan toga kebanggaan kita.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Waaaa.. Acara manggang-manggang apalagi sama kawan tuh pasti paling enak ya. Aku pun udah lama ngga kek gitu. Kawan kampus ku uda pada kerja di luar Medan. Ihik.

    BalasHapus
  2. seru banget nih pasti. akan menjadi salah satu kenangan yang manis pasti :)

    BalasHapus
  3. Jadi Kangen masa" liburan akhir sama temen kuliah,, Ke Kebun Teh Sidamanik , naik Kereta Pulang Hingga jam 12 malam,, hahahah

    BalasHapus
  4. iya kalau wisata itu seneng yang gaseneng kulit langsung deh jadi item padahal susah banget buat mutihin kayak gini

    BalasHapus

Subscribe