Cinta Juga Bisa Kadaluarsa; Delapan Belas Hari

11.38.00

Sastra, kau agungkan itu dalam igauanmu menarik ulur separuh bilik dalam rongga dadaku. Bodoh, terlalu iba atau terlalu terbuka? Asaku membuka hari, setelah sekian lama hari-hari kututup rapat tanpa celah, cahaya juga rongga. Indahmu itu terlalu naïf untuk kutepiskan dalam tiap-tiap nada yang aku lontarkan. Sastra itu, alasanmu menitipkan rasa dalam ronggaku, rongga tak bercelah bernama hati. Hati tak bernama, terkatup dalam merah muda. Ah, sastra. Alasan klasik.
Bukan mudah untuk menyemainya lagi, hariku sudah terbiasa untuk mengkerutkan kening, menahan larikan bibir untuk menyungging senyum. Aku sudah terbiasa mendapat sebutan perempuan “Jutek”, itu memang aku, meski terkadang aku harus menjadi palsu di depanmu, untuk terlihat ramah, manis, anggun, cakep, entah lagi. Kurasa anggunku sudah terbawa pergi olehnya, cinta gila itu. Namun kurasa juga, aku menemukannya lagi dalam sosokmu, yang kudapati jauh sejauh-jauhnya dari pribadi “Dia”. Agaknya anggunku datang lagi, kukira tidak akan lama.
Aku masih mengingatnya, ingat sekali. Meski aku tidak menyimpan semua kalimat itu seperti yang kau lakukan saban hari. Aku tidak menyimpan kalimat romantismu dalam handphoneku, tidak sepertimu. Yang kau katakan bahwa kau menyimpan semua kalimat yang aku kirim sejak kenal denganku hingga delapan belas hari dalam periode dua ini, di handphonemu. Aku percaya itu. Aku ingat, “Aku takut kamu diambil orang, atau aku takut kehilanganmu.” Ya.. kira-kira begitulah. Tapi, sekarang, kau benar-benar membenarkan statement banyak wanita bahwa lelaki hanya bisa bercakap-cakap besar dalam igauannya. Aku benar-benar harus memaksa hatiku untuk mempercayai statement bodoh itu. Karena rasaku mulai tumbuh.
Delapan belas hari pertama, kudapati kau manis sekali. Kukira itu memang kewajibanmu untuk menarik hati. Tapi bukan berarti setelah menarik kau harus mengulurkannya lagi. Aku tau kau punya rasa yang sama, tapi tidak harus memakai alasana bahwa kau seorang “Pemain Baru”. Cinta itu tidak mengenal pengalaman. Siapapun dia, rasa itu bermain dalam ranahnya sendiri. Bukan diatur atau mengada-ngada. Kau katakan bahwa kitalah yang harusnya mengatur cinta, bukan cinta yang mengatur kita. Pahamku, kau sudah termakan dengan aturan-aturan bodoh itu, aturan bodoh yang mengatakan bahwa “Kita masih punya banyak waktu, buat apa terburu-buru”. Bodoh sekali.
Delapan belas hari dalam periode kedua ini, seperti tiga tahun aku dengan mantanku. Membosankan. Raditya Dika bilang, kalau cinta itu ada kadaluarsanya, aku bersikeras untuk membantah itu. Karena aku punya hati yang bisa aku pertahankan sampai mati. Tapi kalau begini skenario kisah cintanya, aku harus berbuat apa????? Bayangkan, aku kurang memahami apa? Diam itu benar-benar emas, emas sekali. Mahal.
Lalu, dimana sastra yang kemarin kau jadikan alasan itu. Sudah matikah, atau kadaluarsa? Lelaki itu memang begitu, payah. Terlalu mencari ribu-ribu alasan manis untuk mencinta, mencipta skenario cinta untuk mendapatkan manisnya, manis madu, gula aren atau gula pasir. Yang pasti lelaki itu suka sekali dengan yang manis-manis, sedikit sekali yang mampu mempertahankan manis-manis yang sudah tak manis lagi. Mungkin kadaluarsa. Ah, terlalu bodoh untuk mempertahankan ini. Mungkin, hanya manis dalam dua kali delapan belas hari ini saja, cinta sudah kadaluarsa. Sebegitu singkatkah masa berlaku “cintamu” ini??

Medan, 26 Juni 2013, sejak 09 Juni 2013
01.32 WIB
Dalam Sunyi yang Menggila >,<

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe