Rabu, 22 Mei 2013

# FICTION

Cendikiawan Muda Penjaga Masjid


Pagi masih gulita, desau angin menggigil. Embun semerbak mendamaikan gelisah hati, kokokan ayam belum sempat bergema, mata sudah tak terpejam beranjak menggemakan azan di seluruh penjuru negeri. Cendiawan muda, bermalam dan bersiang di satu ruangan bersegi empat yang berdinding putih berhiaskan buku-buku yang habis terlahab saban hari. Qorib, pria kelahiran desa terpelosok nun jauh di ujung pndang, merantau demi masa depan cerah tak terelakkan, akhirat tujuan diri.
Azan terdengar syahdu keluar dari hatinya, saban subuh sejak memantapkan diri menjadi mahasiswa di kota metropolitan, Medan. Bukan banyak dana untuk bisa tinggal di kos-kosan yang mewah dan serba ada, hanya dapat mengandalkan kebaikan hati sang pencipta, ia mampu hidup di kota yang bisa saja membunuhnya kapan saja. Menjadi penjaga masjid bukan perkara mudah, jika tidak tertanam ikhlas, beban ‘kan menjalar dalam benak.
Tertancap dalam benaknya untuk merubah nasib diri dan keluarga yang entah sudah seperti apa di kampung halaman, tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk hal yang tiada guna, Qorib selalu belajar dan terus belajar untuk bisa menggapai ridho sang Illahi. Bukan sekedar mengumandangkan azan, namun tanggungjawab lebih dari itu, menjadi imam bagi puluhan kepala yang berharap pahala 27 derajat pada-Nya. Tidak punya banyak waktu untuk mengahabiskan waktu dengan hal yang sia-sia seperti kebanyakan cendikiawan yang entah masih pantas disebut cendikiawan. Berdakwah adalah pilihan diri untuk menuju generasi Rabbani.
Bukan sekedar memakmurkan masjid, pria yang tengah berguru di Fakultas Syari’ah IAIN SU ini juga mengemban dakwah ke penjuru mana pun tuhan mengarahkan hatinya, mengajarkan mencintai Alquran pada puluhan pasang mata yang masih suci, pada bocah-bocah yang kelak menjadi ulama-ulama besar yang berdedikasi tinggi. Puasa sunah adalah senjata diri untuk menghemat penghidupan, pahala teraup dan kebutuhan tak terbengkalai.
Penrjalanan hidup adalah cobaan, bukan sebutir dua butir air mata menggenangi wajahnya, namun Allah masih memberinya kekuatan untuk hidup, bernaung di bawah kubah masjid, berpuasa sebagai sarana penghidupan dan juga solat berjamaah sebagai sarana menyambung tali silaturrahmi. Sepanjang meraih strata satu, Qorib tak letih menjadi penjaga masjid, mencintainya serta memakmurkannya. Pergi kuliah dengan sepeda bukanlah pilihan, namun karena memang tidak ada pilihan lain, uang yang terkadang diberikan nazhir masjid kepadanya sudah terjatah untuk membayar uang kuliah di setiap semesternya. Urusan makan adalah belakangan, ia percaya bahwa Allah tidak akan menelantarkannya, yang terpenting adalah ia mampu menamatkan kuliah dengan baik.
Tiga tahun setengah, Qorib tamat sebagai cendikiawan yang benar-benar dinamai mahasiswa sesungguhnya. Berniat untuk melanjutkan untuk meraup strata dua, dengan tidak meninggalkan masjid yang tengah ia singgahi. Qorib selalu percaya bahwa Allah tidak pernah tidur, hingga pria desa ini mampu menamatkan kuliahnya tanpa kekurangan apapun, berkah karena ia memakmurkan masjid, selama berjuang di strata satu hingga starata dua, Qorib selalu percaya pada keajaiban sebagai penjaga masjid yang dikabarkan bahwa sandalnya saja pun sudah berada di gerbang surga benar adanya.
Hingga akhirnya dengan kekuasaan Allah, Qorib sudah mendapatkan gelar DR selama menjadi penjaga masjid, tidak pernah ada kata canggung dalam dirinya, asalkan halal dan Allah pun meridhoi, maka akan ada saja jalan menuju ke sana. Setelah tamat dengan gelar DR, Qorib melamar menjadi dosen di IAIN SU. Tanpa kesulitan apapun, Allah melancarkan jalannya lulus menjadi dosen dengan keridhoan Allah padanya.
Setelah menikah, Qorib mendapat gelar Prof. Masih seperti dahulu, mencintai masjid dan mencintai puasa serta solat berjamaah, namun setelah bergelar professor, Allah mendudukkannya pada hunian pribadi, bukan di masjid lagi. Baginya bukan tidak mencintai masjid, tapi sudah sepantutnya menjadikan kemakmuran masjid sebagai regenerasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin hidup dirihoi Allah dengan tinggal di masjid dan mencintai masjid. Qorib, Tidak lagi berkekurangan, serba kerkecukupan adalah cobaan untuk terus bersyukur agar tidak takabbur.
Bertahun-tahun menghuni masjid membuat Qorib tidak pernah berhenti mengabarkan tentang mulianya menjadi penjaga masjid pada seluruh mahasiswa yang diajarkannya, pelajaran bahwa siapapun bisa hidup tanpa harus menghuni rumah mewah, karena Allah sudah menyiapkan rumah ternyaman bagi siapapun yang ingin mencintainya dan mengharapkan keridhoannya, yaitu Masjid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar