Jumat, 24 Mei 2013

Buku Antologiku Ke-4 : First Love Stories

Mei 24, 2013 0 Comments

Judul                           : First Love Stories season 2
Penulis                         : Lavira Hadi Cahya, Rezita Agnesia Siregar, dkk
Editor                          : Lavira Hadi Cahya.
Setting dan Layout     : Goresan Pena Publishing.
Desain Cover              : Yulianto Wibowo.
ISBN                           : 978-927-6624-08-6.
Harga                          : 40.000 (belum ongkir)
Kontributor:
Rezita Agnesia Siregar - Gemintang Halimatussa’diah - Rinai Bening Kasih - Rezita Agnesia Siregar - Leni Sundari - Askar Marlindo - Fhirzy Fatmalia - Reshi Gowo - Adinda Iik Zakiah - Fitria Osin - Fitria Desi Shinta - Arinda Shafa - Amaniyya Al Asr – Chastfa - Nurdian Dhee - Ami ChipoChipo - Ai Nur’aisah - Fatimah.

Pemesanan inbox ke Rezita Agnesia Siregar

Buku Antologiku Ke-3 : Akhirnya Tulisanku Terbit Juga

Mei 24, 2013 0 Comments

Akhirnya Tulisanku Terbit juga....

buku ini terdiri dari 6 series,,,,
Buku #1
Aku Bisa! : Chastfa
Hikmah dari Catatan Perjalanan : Amaniyya Al Asr
Bonus Cowok Cakep : Fitria Desi Shinta
Bunda, Aku Lolos! : Naelil
Catatan Juangku : Anung D’Lizta
Hitam Namaku Dara Ugi’ : Munjiyah Dirga Ghazali
Suatu Hari di Bulan September : Akdesia Oidiana Pangaribuan
Akhirnya Terbit Juga : Ria Hidayah
Yang Pertama Kalinya : Wita Rosmalia
Impianku Menjadi Penulis dan Pengusaha Sukses : Askar Marlindo
Jawaban Penantian : Rita Damayanti Sipayung
Kisah di Balik “Purnama di Malam Buta” : Anisa Wijayanti
Kisah Oktober Ceria, Tulisanku Terbit juga : Riska Irene Simatupang
Malaikat Putih #1 : Asmaul Husnah
Malaikat Putih #2 : Asmaul Husnah
Mendikte Hati Tuhan : Muhammad Furqon Az
Mimpi Yang Jadi Kenyataan : Achmad A. Arifin


Buku #2
Bahagianya Tulisanku Terbit : Wahyu Ekasari Nugraheni
Dipaksa Membuat Tak Percaya : HF Inna
Dunia Kata : Dedi Ashari
Buku Pertamaku, Motivatorku : Luluk Kristianingsih
Percikan Pelangi : Hilda Amanda Putri
Olala...Olili... : Tomy M Saragih
Timbul Tenggelam : Vita Ayu Kusuma Dewi
Siap Terbit : Syifaul Falasifah
Menulis Itu Sesuatu : Ica Alifah
Three in One : Anggita Nurindah Kusuma
Mimpiku Ada Dalam Genggamanku : Nuraeni
My First Book : Wahda Khadija Salsabiila
Penghargaan pertamaku : Hasan Ar-Rezky
Semua Memang Akan Indah Pada Waktunya : Aswary Agansya
The Hard 1st Short Story : Hannan Izzaturrofa
Buncah Bungah Sabtu Sore : Neli Rosdiana


Buku #3
Kisahmu dalam Novelku : Yuni Retnowati
Mati untuk ke-sekian kali : Eka Desyi Ernawati
Mendadak Artis : Puri Parwati 
Merangkak Untuk Menuju Puncak : Toffa Giez
Pertama Untukku : Ruspeni Daesusi
Arti Menulis : Ratna Eka Sari
Sik, Asyiiik.... : Nai Azura 
Tuhan, Ini Proposal Hidupku : Ulil Asmi
Wrong Choice : Lina Nurdiana 
Benar-Benar Harus Berbahagia : Nanaz Nazrul
Bukuku, Buah Hatiku : Azri Zakkiyah
Cita-citaku Menjadi Penulis : Siti Nurjannah

Buku #4
Jatuh Sekali, Bangkitlah Berkali-Kali : Andalusiana Cordoba
Aku Ingin, Aku Mau Maka Aku Mampu : Desty Dasril
Bunda, Aku Lolos! : Naelil
Cermin Hati Yang Memilih : Dara Eka Distira
Go Nulis ! : Maswha Faizah
Pagi Berkabut dan Segurat Cahaya di Kaki Langit : Sepri Ayu Flow.
Hadiah Menjadi Motivasiku : Feni Dwi Maslin 
Ketika Tulisanku Terbit : Rezita Agnesia Siregar
“Nomor 29!” : Dian Agustin
Bulan Ramadhan 2011, Tonggak Aku Menulis Lagi : Adhita Prawatyo
If You Can Dream It, You Can Do It : Nur Azizah Rizki A.
Cinta Orang Tua Kepada Anaknya : Lian Hadinata
Nekat Menembus Kerumitan : Asih Putri Utami
Sebait Pena Liar : Anzil Laila
Sedekah Tulisan Membawa Berkah : Nyi Penengah D
Selaksa Mimpi Si Penulis Unyu : Bondan Al-Bakasiy


Buku #5
UKM FDI Pintu Gerbang Penyair dan Penulis Dunia : Sandi Iswahyudi
"Kenangan, Cinta, dan Warnet Berdebu" : Ken Hanggara
Air Mata Ibu : Rahmat Akbar
Antologi Pertama : Chinglai Li
Awalnya Coba-Coba, Eh Tulisanku Langsung Dimuat! :Hanna Kristina
Mawar Terakhir Untuk Friska : Caka. A. A
Sebuah Bonus Pemicu Semangat : Nathalia Diana Pitaloka
Tanpa Beban Dan Penuh Cinta : Wahyu Widyaningrum
Berkatalah yang baik atau diam : Eka Desyi Ernawati
Gadis Kecil di Perempatan Jalan : Eka Desyi Ernawati
Goresan Tinta Berjuta Makna : Sis Ariyanti
I’m Proud Tobe A Writer : Trance Taranokanai
Lika Liku Menulis : Al Khanza Demolisher
Kau Selalu Tersenyum : Heris Gentur
Keimananku : Heris Gentur


Buku #6
Awalnya Aku Malu : Arinda Shafa
Di Ujung Kegagalan : Vina V Katerwilson
Menulis Untuk Mendapatkan Uang : Ikhrina Syaf’Aini
Senangnya Dibukukan Juga : Rahel Simbolon
Tanda Tangan Pertama : Zubeir el-Awwabi
Tentang Bunda : D'perindu Queen
Sebait Doa Ibu Untuk Buah Hatinya : Indah Dwi Astuti
Dan Mataharipun Terbit : Merice Syahidah
Setitik Do’a di Ujung Pena : Evy Novyanti
Terus Buku-kan Idemu : Nenny Makmun
Hangatnya Seangkir Perjuangan : Sulaiman Rambe Tampan


Pemesanan inbox ke Rezita Agnesia Siregar

Buku Antologiku Ke-2 : The Formula of Charity 1 : 1 = 11

Mei 24, 2013 0 Comments


Judul               : The Formula of Charity 1 : 1 = 11 -Dia memberi 10, saat aku berbagi 1-
Genre              : Kumpulan FTS inspiratif tentang beramal
Penulis             : Boneka Lilin, Rezita Agnesia Siregar, et Boliners
Editor              : Boneka Lilin
Design Cover  : Ary Hansamu Harfeey
Penerbit           : Harfeey
ISBN               : 978-602-18917-9-7
Tebal               : 166 Hlm; 14,8 x 21 cm (A5)
Harga              : Rp 40.000,- (Untuk seluruh penulis kontributor, diskon 15% setiap pembelian buknya)

SINOPSIS
Tidak pernah ada dalam sejarahnya orang menjadi miskin karena beramal. Dengan beramal, justru Tuhan akan semakin melipatgandakan rizky setelah proses "pencucian" harta tersebut.

Satu hal yang perlu dijadikan prinsip, "Jangan menunggu kaya untuk beramal, tapi beramallah niscaya kamu menjadi kaya."

51 kisah nyata penuh hikmah terangkum tentang keajaiban dari rumus beramal. Di mana ketika kita berbagi 1, maka Tuhan akan memberi 10.

***
Penulis Kontributor :
Boneka Lilin, Chinglai Li, Ardinal, Silviani Yunistia, Suci Fitriyanti Nur Amandasari, Elrifa Wiwid, Muhammad, Nelly Nezza, Neli Rosdiana, Zahara Putri, Al Khanza Demolisher, Sofiyah Fu’adah, Mardiana Susanti, Mohamad Misbah, Hady Kristian, Nurdian Dhee Muttaqin, Sri Juli Astuti, Yeyen Septia Anggraini, Anisa Wijayanti, Rezita Agnesia Siregar, Cici N. Nandi, Putri An-Nissa Nailhatul Izzah, May Valentine, Meliana Levina Prasetyo, Anzil Laila, Wisandria Notisa, Kania Poetry, Wahda Khadija Salsabiila, Nai Azura, Ratna Eka Sari, Rin Agustia Nur Maulida, Indah Permatasari, Yussy Dian Pramita, Tomy M. Saragih, Ghiyatsableng, Yanita Widjayanti, Askar Marlindo, Murni Oktarina, Nenny Makmun, Abdushabur Rasyid Ridha, Rizki Alawiya, Wahyu Widyaningrum, Andik Chefasa, eLKa Nisa Mahdi, Leni Sundari, Lateeva Martufemi, Vita Ayu Kusuma Dewi, Nai Saras, Heru Patria, Yuni Ayu Amida, Yuni Retnowati.


Pemesanan inbox ke Rezita Agnesia Siregar

Buku Antologiku Ke-1 : Permata Kasih

Mei 24, 2013 0 Comments

Judul : Permata Kasih
Penulis : Yuphe Himura, Rezita Agnesia Siregar, dkk
Tebal : xii + 148 hlm
ISBN : 978-979-96590-3-3
Harga : Rp. 35.000,-
Bersyukur aku dilahirkan dari rahim perempuan terhebat yang ku punya. Ia begitu anggun, cantik, dan bijak. Menurutku Ia adalah perempuan yang paling sempurna di antara perempuan-perempuan yang ada
Aku rindu akan wajahmu yang syahdu,
senyum, tawa bahkan diammu pun kumerindu
tak bisa kupungkiri, aku rindu semua tentangmu . . .

Dalam hening mendekap hangat
Hangat akan kasih sayangmu
Walau raga tak bertemu tapi cinta kan menyatu
Dalam rindu yang selalu menggebu

Ketika wangi dunia mulai kucium
Di kala tangisan pertamaku menyapa realita
Dan disaat celoteh manjaku menyeru kepada para malaikat
Saat itulah lengan perkasa seorang wanita selalu melindungiku

Wajah tersenyum
Lelah tapi tak henti
Pemesanan inbox ke Rezita Agnesia Siregar

Menujumu

Mei 24, 2013 0 Comments

Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Udara berhembus bergaduhan
Menerbangkan puing-puing masa laluku
Daun-daun seakan memperhatikan renungku
Diam dan menari bersama udara

Semilirnya berdendang sayup
Menyentil-nyentil bait namamu di telingaku
Teingat lagi raut wajahmu yang lalu melempar senyum
Berbisik syahdu tepat di sisi telingaku            
Saat udara ini menyebut lirih tentangmu

Aku ingat saat udara membawamu bersamaku
Duduk disini saling melempar senyum berpadu malu
Saling menahan jantung berpadu riang

Udara selalu bisa menyentuhmu kapanpun dia mau
Aku cemburu dan hatiku mendesau
Menguapkan bulir indah menggenang di bias pipiku
Aku akan terbang menujumu bersama udara
Dimana udara akan mengantarkan aku tuk meraih hatimu, Nanti.

Rabu, 22 Mei 2013

Teringat Lagi dan Ingin Lagi

Mei 22, 2013 0 Comments

Aku terperosok dalam lubang yang aku galih sendiri
Tertampar bayangn yang aku ciptakan sendiri
Angin seperti murka padaku
Dia kembali menyemai masa yang telah hampir aku kubur
Aku kehilangan daya ketika radar tak lagi bersahabat
Aku buta dalam benderang yang dibawakan intuisi kepadaku
Aku hampir berdiri dari sungkuranku
Tapi energiku habis
Habis ketika otakku tak henti mencari keberadaanmu dalam laci di bilik otakku
Hei…
Dayaku hilang
Kumohon jangan paksa aku untuk bangkit sendiri
Kemarilah!
Raih jemariku dan bantu aku untuk bangkit
Agar kita bisa berjalan bersama, LAGI..

-RASCA-
31 Jan 2013

Jerih Payah Gadis Pixy

Mei 22, 2013 0 Comments

Hidup, secarik kertas bersketsa kepedihan. Memaksa untuk senyum pun enggan, bagaimana mungkin menyungging senyum sebab leher terjerat nadi. Berat, mengayuh roda yang antah berantah, entah mulai dari mana untuk melaju sampai ke tujuan. Tersungkur pun sulit bangkit, tangan tuhan tak terlihat nyata. Menyerah, salah satu pilihan yang tak bertemankan pilihan.
2011, angka di mana aku mengayuh kaki. Bukan keinginanku, tapi tuhan memvonisku untuk duduk di sini, IAIN Sumatera Utara tepatnya di jurusan Ahwal Syakhsiyah-B. Aku dipertemukan dengan tiga puluh pasang mata yang belum pernah aku temui, tamatan puluhan pesantren termasyhur di negeri ini. Aku, hanya tamatan aliyah yang entah memiliki ilmu sejauh mana. Tiada gairah di awal, rasanya berat untuk melanjutkan kayuhan, namun sesosok wanita parubaya mengantarkanku pada polesan kasih Tuhan. Polesan yang benar-benar diberikan oleh Tuhan untuk umatnya yang mau berusaha, karena Tuhan tidak melihat hasil akhir melainkan proses dari usaha itu sendiri. Perempuan itu, Ibuku.
Terlahir bukan sebagai anak konglomerat, membuatku harus benar-benar memanfaatkan kursiku sebagai mahasiswa. Terlebih defenisi mahasiswa yang tak lain adalah membaca. Perpustakaan adalah surgaku ketika itu, menyadari tak banyak kertas bernilai di sakuku untuk bisa membeli semua buku-buku yang menjadi bahan ajaran pokok pada setiap matakuliah.

Dinamika, Aku Padamu

Mei 22, 2013 0 Comments

Bukan siapa-siapa dan akan jadi siapa? selalu melalang buana dalam benakku, ketika awal memberanikan diri mendaftar di Lembaga Pers Mahasiswa IAIN Sumatera Utara, sebuah lembaga intra kampus yang bergerak di bidang jurnalistik. Aku, seorang yang sangat sulit untuk bergaul lalu memutuskan untuk mendaftar sebagai jurnalis kampus? akan jadi apa aku di sana? mau apa? bisa apa?
Berbekal hobi suka menulis aku memberanikan diri untuk mendaftar sebagai jurnalis kampus di Dinamika. Menjadi pendaftar pertama adalah kebanggaan tersendiri bagiku, bahkan formulir pendaftaran pun belum disiapkan ketika itu, hebat sekali.
Langkah dimulai, mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan pun kurasa belum cukup untuk menjadikanku bisa menulis seperti senior-senior di Dinamika yang sangat super sekali. Dari SMP, aku suka menulis, meski hanya sekedar menulis kisah sehari-hari dalam buku diary dan juga puisi. Itu pun membuatku tertawa geli ketika melihat kembali hasil tulisan keseharianku juga puisi-puisku dulu, tulisan yang sama sekali tidak terarah.
Pelatihan yang paling aku ingat adalah ketika berlatih menulis puisi non-lugas oleh Kak Wahyu Wiji Astuti, Ia mengajarkan bagaimana menulis puisi yang benar-benar puisi dengan metode membuat pohon kata terlebih dahulu. Lalu dengan metode olahraga rasa yang diajarkan Kak Wahyu, aku dan seluruh isi ruangan diajak berjalan-jalan dalam dunia yang kami ciptakan sendiri, melihat jauh kebelakang juga berhayal jauh ke depan, mengingat kembali kenangan yang indah dan menyakitkan. Memejamkan mata dan tanpa terasa bulir air menggenangi pipiku dan juga kru di sekretariat Dinamika ketika itu. Berbekal kisah itu, diajaklah kami untuk menulis puisi sesuka hati dengan metode pohon kata, yaitu menyusun terlebih dahulu kiasan apa yang ingin dimasukkan ke dalam puisi yang akan di tulis.

Cendikiawan Muda Penjaga Masjid

Mei 22, 2013 0 Comments

Pagi masih gulita, desau angin menggigil. Embun semerbak mendamaikan gelisah hati, kokokan ayam belum sempat bergema, mata sudah tak terpejam beranjak menggemakan azan di seluruh penjuru negeri. Cendiawan muda, bermalam dan bersiang di satu ruangan bersegi empat yang berdinding putih berhiaskan buku-buku yang habis terlahab saban hari. Qorib, pria kelahiran desa terpelosok nun jauh di ujung pndang, merantau demi masa depan cerah tak terelakkan, akhirat tujuan diri.
Azan terdengar syahdu keluar dari hatinya, saban subuh sejak memantapkan diri menjadi mahasiswa di kota metropolitan, Medan. Bukan banyak dana untuk bisa tinggal di kos-kosan yang mewah dan serba ada, hanya dapat mengandalkan kebaikan hati sang pencipta, ia mampu hidup di kota yang bisa saja membunuhnya kapan saja. Menjadi penjaga masjid bukan perkara mudah, jika tidak tertanam ikhlas, beban ‘kan menjalar dalam benak.
Tertancap dalam benaknya untuk merubah nasib diri dan keluarga yang entah sudah seperti apa di kampung halaman, tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk hal yang tiada guna, Qorib selalu belajar dan terus belajar untuk bisa menggapai ridho sang Illahi. Bukan sekedar mengumandangkan azan, namun tanggungjawab lebih dari itu, menjadi imam bagi puluhan kepala yang berharap pahala 27 derajat pada-Nya. Tidak punya banyak waktu untuk mengahabiskan waktu dengan hal yang sia-sia seperti kebanyakan cendikiawan yang entah masih pantas disebut cendikiawan. Berdakwah adalah pilihan diri untuk menuju generasi Rabbani.

Aku Hidup Karena Dendamku

Mei 22, 2013 0 Comments

Sakit bukan karena tersayat silet, bukan juga tertikam belati. Sakit teriris oleh rasa, rasa yang tak pernah menganggap aku ada. Entah sejak kapan, entah sejak aku mengenal arti kehidupan, entah sejak aku bisa mengingat nyawa-nyawa pengisi kehidupan. Pahit sekali, aku berlalu lalang, berlenggang ke sana- ke mari, namun tak jua mendapat tatap, tak jua mendapat sapa, hanya sekilas angin lalu, tiada arti, hampa.
Tertahan di dadaku, sesak. Tertahan di bibirku, perih. Aku tiada daya untuk menyampaikan amarahku, harus kusampaikan pada siapa, jika sekiranya mereka semua tiada menganggap ada fungsiku. Haruskah aku berteriak untuk menyatakan aku ada di antara mereka, kurasa percuma, aku bagai hembusan nafas kecil seekor semut yang baru lahir. Sudah berkali-kali kucoba, menampakkan diri, berbuat semampuku, namun kenyataan memang tidak sedang berbaik hati padaku, mereka sibuk dengan hal-hal yang mereka sukai, tanpa tahu aku juga ingin disukai, bukan hanya itu, aku ingin sekedar dianggap ada. Itu.
Di rumah, di organisasi, di hati seorang kekasih, di dunia maya, di ruang persahabatan, dan bahkan di ruang yang tak memiliki nama, aku tiada fungsi bagi mereka. Terlalu hina.
Semua, tatapan yang tak menatapku. Suara yang tak menyapaku, rasa yang tak menganggapku. Akan aku buktikan dengan apa-apa yang kalian tidak pernah anggap ada. Semua akan tumbuh karena dendamku, dendam pada kalian semua yang tidak menganggapku ada. Segera, kutorehkan tinta di atas dunia, bahwa aku ada dan berfungsi sangat penting. Bagi siapapun.

Medan, 24 Maret 2013. 00.36 WIB

Membayar Zakat Juga Membayar Pajak?

Mei 22, 2013 0 Comments

Dewasa ini, kebanyakan masyarakat enggan membayar pajak dikarenakan masyarakat sudah merasa cukup dengan hanya membayar zakat, anggapan kebanyakan masyarakat bahwa membayar pajak merupakan salah satu jalan untuk membantu kemakmuran umat, sama halnya dengan zakat yang memiliki peran yaitu pertama zakat sebagai penyangga sosial, zakat mencukupi kebutuhan sosial dasar seperti makanan, pendidikan dasar dan kesehatan. Kedua zakat sebagai modal usaha. Namun dikarenakan perbedaan siapa subjek yang memerintah hal tersebut, maka kebanyakan masyarakat memilih membayar zakat saja daripada juga membayar pajak.
Penduduk muslim di Indonesia berjumlah sekitar 87% dari total penduduk. Walaupun penduduk muslim 87% dari penduduk Indonesia, tetapi dalam pemasukan pajak tidak berbanding lurus dengan banyaknya jumlah penduduk muslim yang ada. Di Indonesia, seorang muslim adalah subjek yang wajib bayar pajak. Jika diminta memprioritaskan, tentu saja umat Islam lebih rela membayar zakat daripada pajak, karena lebih bersifat mayoritas penting dan didorong oleh motivasi beragama dan kesadaran atas imannya banyaknya jumlah penduduk muslim yang ada. Hal ini mungkin saja disebabkan penduduk muslim enggan membayar pajak, karena telah ada kewajiban pajak dalam agama Islam yang biasa disebut zakat.   karena zakat hanya diakui sebagai biaya, maka dampak bagi kewajiban pajak  masih relatif  kecil,  sehingga belum cukup efektif untuk meningkatkan pajak maupun zakat.
Selama ini di kalangan umat Islam beredar anggapan yang salah, bahwa membayar zakat dapat langsung mengurangi pajak yang akan dibayarkan. Sebenarnya yang benar adalah zakat yang telah dibayarkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi akan dikurangkan terhadap laba atau pendapatan sisa kena pajak dari wajib pajak yang bersangkutan. Zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan secara resmi oleh wajib pajak Orang Pribadi pemeluk Islam atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki kaum muslimin, dapat dikurangkan atas penghasilan kena pajak
Berbagai usulan telah disampaikan agar pembayaran zakat mengurangi kewajiban pajak. Keinginan tersebut sama sekali bukan tanpa dasar. Al-Qur’an menyatakan bahwa zakat hanya diperuntukkan bagi golongan mustahik, yaitu fakir, miskin, amil zakat, muallaf, riqob, gharimin, ibnu sabil, dan fi sabilillah. Adapun peruntukan pajak adalah sangat tergantung situasi dan kondisi negara pada saat itu. Suatu saat digunakan untuk membangun infrastruktur, lain waktu untuk program pendidikan. Dari aspek pemanfaatan, menurut agama Islam, zakat harus disalurkan secara langsung kepada yang berhak, sedangkan pajak, secara konsep dan praktek, pemanfaatannya adalah secara tidak langsung. Jadi pembayar pajak tidak bisa menuntut pemerintah untuk segera menggunakannya untuk kepentingan rakyat, tetapi tergantung pada mekanisme yang ada di pemerintahan. Dari aspek tarif. Agama Islam sudah mengatur secara rinci tentang tarif zakat, dan hal tersebut sudah baku, tidak bisa diubah-ubah. Sedangkan tarif pajak bisa diubah disesuaikan dengan kondisi. Jadi, membayar pajak itu berbeda dengan membayar zakat.

Selasa, 21 Mei 2013

Puslitbang Pendidikan Agama RI Canangkan Budaya Damai di Kampus

Mei 21, 2013 0 Comments
Medan (7/5)  Puslitbang pendidikan agama dan keagamaan badan litbang dan diklat kementrian agama republik Indonesia  adakan seminar nasional dengan tema membangun budaya damai dan toleran di kampus. Acara ini berlangsung di aula lt. 2 IAIN SU mulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB.
Seminar ini dibuka oleh rektor IAIN SU Prof. Dr. H Nur Ahmad Fadhil MA dan dihadiri oleh tiga pemateri yaitu Prof. Dr. H Machasin MA selaku peneliti radikal seluruh PTAIN seluruh Indonesia, Mashtalif Dwi Purnomo selaku dosen IAIN dan Dr. Ansari Yamamah, MA selaku dosen IAIN SU serta mahasiswa undangan dari 24 perguruan tinggi di Medan, mahasiswa dari dua perguruan tinggi di Binjai, Sembilan organisasi di Medan, balai diklat, kanwil kemenag Sumut dan beberapa mahasiswa IAIN SU.
Berhubungan dengan tema yang membahas tentang bagaimana membangun budaya damai dan toleran di kampus, Maslatif menyatakan dalam materinya bahwa penyebab tidak damainya suatu Negara adalah dikarenakan radikalisasi, “Radikalisme menimbulkan aksi terorisme yang menjadi pengganggu seluruh masyarakat Indonesia. Radikalisme pada umumnya terjadi pada oraganisasi-organisasi yang ada di dalam perguruan tinggi, maka dari itu pihak perguruan tinggi harusnya memfilter organisasi-organisasi yang berkembang di dalam perguruan tinggi tersebut dan memilih staf dosen yang berkompeten karena dari situlah timbul pola pikir mahasiswa untuk mengambil sikap” ujar Maslatif
Reporter: Rezita Agnesia Siregar

Senin, 20 Mei 2013

Tinggalkan Cinta Sebelum Halal

Mei 20, 2013 0 Comments
Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Mencinta dan mencintai adalah fitrah bagi manusia, semua orang butuh akan cinta karena jika hidup tanpa cinta maka seperti yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut populer bahwa hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Cinta membuat segalanya menjadi indah, memberi warna dalam hidup, melukis senyuman pada wajah, cinta membuat setiap detak jantung menjadi sangat berarti. Itulah cinta namun, cinta juga memiliki aturan main yang harus dijalankan jika ingin selamat dunia dan akhirat. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah. Pengertian Ibadah yaitu sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang nampak (lahir) maupun yang tersembunyi (batin), disertai oleh ketundukan yang paling tinggi dan rasa kecintaan yang paling tinggi kepada Allah.

Kamis, 16 Mei 2013

Daun Baru yang Kau Miliki

Mei 16, 2013 2 Comments
Kepakan ranting menggores lenganku, perih. Sudah kulupakan, hampir. Entah, sejauh mana aku mampu menepi, menepi mengobati sayatan ranting yang kering, mencari dahan untukku bersandar pun enggan, masih sangat perih kurasa. Aku terhempas, terserak entah kemana arah, tersapu angin mendayu-dayu. Aku hilang arah.
Aku tidak punya daya untuk menuju arah yang menyengatku, hanya mampu berharap penuh pada desau angin yang berbaik hati meniti langkahku. Aku daun yang kering, yang jatuh tersapu angin, terusir induk pepohonan yang gersang. Biarkan aku di sini, jangan adopsi aku lagi, aku menyerah.