Jumat, 08 Februari 2013

Tiga Tahun Silam

Februari 08, 2013 0 Comments

Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Seperti terseret ke dalam mesin waktu
Aku terduduk di suatu senja tiga tahun silam
Aku dibisukan keadaan
Diam termangu meratapi senyum merekah di seberang sana
Tawa lepas tak terkendali di seberang sana
Binar mata berkaca-kaca di seberang sana
Haru biru di ambang senja

Tiga tahun silam
Siapa gerangan dua raga itu
Bahagia di peraduan
Tak ayal nyawa lain mengusik

Mentari tidur dengan malu-malu
Berarak berganti bulan
Kulihat senyumnya menyerupai lengkungan sabit
Bintang tak sudah ikut mampir
Kulihat taburan cahaya itu tak secerah raut wajahnya
Kurasakan angin ikut mengendap
Namun sautan angin tak semerdu perbincangan mereka
Seketika petir cemburu
Menghampiri dan memecah keheningan nan mesra
Gerimis tak lagi bersahabat
Hujan mengguyur hebat
Mematahkan hati merobek kedamaian jiwa

Gulita mencekam
Bagaimana mungkin Menunggu pelangi selarut ini
Aku tercengang
Apa daya
Tak ada upaya yang mampu ku tembus
Jeritku membeku
Peristiwa apa ini?

Kudapati badai menerjang keharmonisan
Gemuruh menyekat dinding di antara mereka
Mereka tersedu
Tertunduk pilu
Apa gerangan yang harus aku lakukan
Menunggu esok menjelang hingga mentari bersahabat dengan pelangi
Semoga . . .

-Medan, 29 Juli 2009-

Senin, 28 Januari 2013

Resto BR Keluarkan Single Perdana: Killing Time

Januari 28, 2013 0 Comments
Resto BR, sebuah band bergenre Rock Garage telah mengeluarkan single perdananya berjudul Killing Time, band yang digawangi oleh personil-personil multy talented ini telah membuat banyak telinga terbelalak dengan logat vokalisnya yang sebelas duabelas dengan adam-adam barat. Lagu ini Wajib banget jadi koleksi lagu favorit kalian teman-teman :
Ayo di download http://www.reverbnation.com/RestoBR/song/15892605-killing-time

Kamis, 17 Januari 2013

Rumah Hatimu

Januari 17, 2013 1 Comments


Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Dalam deras ombak senja ini
Aku duduk termangu teringat langkahku yang terus mendambamu
Menjejak tegas mengukir mimpi
Mimpi yang tergurat pasti dalam langit bercumbu mega

Di balik bias senja
Aku mengiba-iba sabda ombak
Membentangkan permadani biru untuk cintaku
Yang setia mengeja namamu
Disetiap hentakan nafas meskipun terbata

Sayup debur ombak memecah keheningan
Kulihat bayangmu dari kejauhan
Mengungkit lagi butir-butir kenangan yang kupendam dalam diam
Gelombang buih menggodaku
Untuk serta merta mengayunkan lagi cintaku menuju rumah hatimu

Medan, 22 April 2012
Dimuat di Harian Analisa pada 04 Juli 2012

Bait Kerinduan

Januari 17, 2013 0 Comments

Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Aku tak kuasa berlari menuju jejakmu
Terasa tak ada kehidupan saat kau jauh
Hanya sunyi sepi yang menggigit
Hadirmu kini menggoda angin
Berontak menyulam bait-bait kerinduan

Aku masih setia menunggu sapamu
Namun engkau masih membatu
Tak ada sapa sedari tadi
Hanya aku yang melontarkan bait-bait harapan
Hingga mentari mengantuk dan tertidur dalam dekapan langit

Medan, April 2012
Dimuat di Harian Analisa pada 04 Juli 2012


Sabtu, 29 Desember 2012

The Happies Holiday with My Best Friends

Desember 29, 2012 1 Comments

Oleh: Rezita Agnesia Siregar
Siapa bilang liburan harus dihabiskan untuk mengunjungi tempat-tempat mewah dan mahal? Yang terpenting adalah suasana bagaimama kita bisa membawa diri kita menjadi lebih bernilai meski liburan di tempat yang sederhana. Libur semester kali ini aku memutuskan untuk melumat habis isi Medan Zoo (apa? Mau makan seluruh binatang yng ada disana? Oh tidak!) bukan untuk memasukkan seluruh isi Medan Zoo ke dalam perut, tapi memasukkannya ke dalam memori otakku yang paling dalam agar liburan seru kali ini akan selalu ku ingat sampai penuaan mengusik hidupku) Ku ambil ponselku dan kulayangkan pesan untuk kedua sahabatku, Irma dan Devy. Dalam pesanku aku menyatakan untuk mengajak mereka liburan ke Medan Zoo minggu ini, singkat cerita sahabat-sahabatku pun bersedia untk liburan ke Medan Zoo.

The First Holiday And Whether It Will Be The Last?

Desember 29, 2012 0 Comments

Oleh: Rezita Agnesia Siregar

Selalu ada cerita dibalik tangis dan tawa, seperti aku. Selalu ada aksara yang melayang bebas dalam intuisiku, merangkai dan memintal aksara untuk aku pamerkan di masa depan, tentang hari ini, kemarin dan esok. Bukan mudah untuk menyatukan berpuluh-puluh pendapat, terlebih tentang perdebatan yang terkadang membuat aku muak, bahkan hampir menumpahkannya dari perutku. Berbulan-bulan aku dan keluarga besar Ahwal Syakhsiyah-B merundingkan tentang tujuan liburan akhir semester ini, puluhan pendapat terlontar dan puluhan perdebatan hampir tak terelakkan, asa hampir lelah.

Minggu, 02 Desember 2012

Second Day in December

Desember 02, 2012 0 Comments

Hai penguasa hari ini, apakah kamu merasa bahagia dengan kedatangan hari ini? ini tanggal 02 Desember, hari yag kamu tunggu-tunggu namun kamu takuti kedatangannya. Banyak ungkapan yang sulit aku ungkapkan, bukan karena enggan namun terlebih karena aku tak mampu meluapkannya, tertahan di tenggorokannku, ada sesosok adam lain yang menahanku, aku ingin sekali kamu tahu, aku ingin sekali kamu mendengar, bahwa aku menjerit dalam lamunanku, aku terbang dalam pasungku, aku memanggilmu, aku mengucapkan selamat akan hari ini, hari yang kamu kuasai, hari dimana banyak jemari menjabat jemarimu namun tidak denganku, namun tahukah kamu hatiku telah erat menggenggam hatimu, namun aku sadar kamu pasti mengabaikan atau saja terabaikan oleh hawa yang lain.
            Disisi lain aku ingin kamu melihat ini, disisi lain aku tidak ingin kamu menyadari keberadaanklu yang masih dan sangat masih, ah entahlah, rasa apa ini, masih apakah aku, apa dasar dari kata masih ini, sungguh aku hanya ingin menjadi angin, yang mampu kapan saja membelai lembut kulitmu, menyeka syahdu rambutmu, mencium harum aroma tubuhmu. Duhai penguasa hatiku, mungkin aku tidak ada lagi dalam serambi hatimu, namun kamu, aku pun tak mampu mendefenisikannya. Aku gila, aku gila karena rasa yang sulit aku beri arti. kamu sungguh hidup dalam dera air mataku, kamu satu-satunya yang takkan terganti jikalau pun kamu akan terganti tidak pantaslah kamu menjadi yang kedua.
Ketahuilah bahwa aku tidak pergi, aku hanya sedikit menyamarkan warna kulitku agar samar terlihat olehmu. Aku tidak ingin lagi mengusik bahagiamu, aku tahu tidaklah guna mengharap bayang semu, namun inilah keinginanku, tolong jangan paksa aku tuk benar-benar pergi, biarkan aku melihatmu dalam jarak yang jauh darimu, setiap detik yang selalu menggumamkan namamu. Ingatlah, aku menggenggam erat hatimu, aku selalu menjaganya, aku sakit jika kamu juga begitu, aku akan berusaha juga bahagia jikalau kamu bahagia dengan cinta barumu. Selamat ulangtahun odongku, i’m still, still n still forever more J

Medan, 02  Desember 2012 00.05 Wib
Di Pelataran Hati yang Terkikis

Memperhatikanmu

Desember 02, 2012 0 Comments


Tepat seminggu lalu, kutemukan engkau dalam secarik diam, dalam lamunanmu yang juga aku lamunkan. Mengapa engkau diam? aku memanggilmu dari sini, meski hanya sebatas gumam, namun aku percaya engkau juga mendengar. Ah mana mungkin, aku siapa? Kamu siapa? Dari mana landasan bisa kenal. Aku bukan bidadari yang kau cari tapi engkau pangeran yang kudambakan, kini kutemukan engkau dalam keramaian, keramaian yang benar-benar membuatmu berbeda, duhai pangeran almamater merahku, bisakah sedikit putarkan arah kepalamu, lihat kemari, aku tengah memperhatikanmu.

30-11-2012,
Beranda cinta, {}

Senyumanmu

Desember 02, 2012 0 Comments

Senyumanmu J
Dalam sunyi yang disekat dalam ruangan bersegi empat berwarna ungu, aku berkutat dengan layar komputerku, beradu tenaga dengan keyboard yang kini tengah kujajahi, terkiang sejarik lirik yang membuatku termangu, membuatku terhenti menjajahi sang keyboard, aku diam keyboard pun manyun, lirik itu jelas menusuk organ kepala terdalamku, “~Senyumanmu masih jelas terkenang hadir selalu, seakan tak mau hilang dariku”. Yah, senyuman itu, senyuman yang untuk kedua kalinya aku dapatkan, senyum ini berbeda dari senyum yang pertama, senyum ini lebih mewah, lebih lepas layaknya burung yang terbang hilang kendali tanpa sayap, hampir jatuh dan bahkan telah jatuh, benar, senyum itu telah jatuh mengenai kornea mataku, menyerang otakku bertubi-tubi, hingga aku tidak bisa berhenti membayangkan senyum itu. Senyum yang lebih manis dari rasa toping cokelat yang baru tadi pagi aku cicipi dari lemari pendinginku. Ah aku rindu.
“~Takkan mudah kubisa melupakan segalanya, yang telah terjadi di antara kau dan aku, diantara kita berdua~”. Aku kembali terpasung diantara dilema dan kegalauan yang menggila. Lirik itu benar-benar membuatku kembali memutar haluanku jauh kebelakang, sulit bagiku untuk melangkah meninggalkan kenangan itu namun banyak hal yang juga mempropokatoriku untuk terus menetapkan senyum itu dalam dinding hatiku. Meski aku terus melangkah dan terus menahan hati untuk tidak berputar haluan, tetap saja sapaan lirih memanggilku, ia terngiang, senyuman itu menelusup lewat celah-celah hati yang robek, ia menyinggahi membersihkan hati yang telah usang. Perlahan memberikan warna baru namun hanya sedetik lalu pergi lagi. Ia mempermainkan hatiku tanpa ada niat untuk mempertanggungjawabkan akan hati yang kian terpuruk ini.
            Ada apa ini? Aku hampir lupa pada sosok wajah yang melemparkan senyum manis itu, namun kenapa hanya senyumnya yang menelusup liar dikepalaku. Hampir, sedikit lagi aku mampu menghapusnya dengan penghapus yang telah hadir menawarkan diri untuk membantuku menghapusnya, namun sayang, kurasa memang percuma, kurasa senyuman itu telah tertanam mati dalam hati dan otakku, logika dan hatiku mungkin telah bersahabat mengenai senyum yang membuatku gila ini, Bantu aku, izinkan aku menghapusnya, tolong!
Medan
Sab 01122012 12.15. 
Pada Dinding hati yang Robek